SEMARANG, beritajateng.tv – Istilah superflu sedang ramai jadi perbincangan masyarakat Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa istilah “superflu” bukanlah istilah medis resmi.
Superflu merujuk pada varian Influenza A H3N2 subklade K yang terlapor meningkat di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga saat ini terdapat 62 kasus infeksi Influenza A (H3N2) subklade K di Indonesia. Kasus tersebut tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Kemenkes juga mencatat kelompok usia 1–10 tahun menjadi yang paling banyak terinfeksi dengan proporsi sekitar 35 persen dari total kasus. Dari sisi jenis kelamin, pasien perempuan mendominasi dengan sekitar 64 persen dari keseluruhan temuan.
Dominasi kasus pada anak-anak membuat upaya pencegahan di lingkungan keluarga dan sekolah menjadi fokus utama tenaga kesehatan untuk memutus rantai penularan sejak dini.
BACA JUGA: Super Flu Terdeteksi di Indonesia, Anak Jadi Kelompok Rentan
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menyampaikan bahwa virus ini memiliki tingkat penularan yang relatif cepat, terutama pada kelompok anak dengan penyakit penyerta atau komorbid.
“Anak-anak dengan asma, penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronik, obesitas, hingga diabetes perlu mendapatkan perhatian khusus. Jika terinfeksi influenza A, risikonya bisa menjadi lebih berat,” ujar dr. Piprim pada Selasa, 6 Januari 2026.
IDAI menjelaskan, influenza berbeda dengan flu biasa. Penyakit ini dapat memicu demam tinggi, nyeri otot, lemas berat, hingga komplikasi seperti pneumonia. Dalam kondisi tertentu, influenza bahkan berpotensi mengancam nyawa.
Anggota UKK Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp Respi(K), menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah bahwa subklade K menyebabkan tingkat keparahan lebih tinggi daripada influenza A jenis lainnya.
“Istilah superflu muncul karena penularannya yang cepat, bukan karena lebih mematikan. Tingkat keparahan sejauh ini masih serupa dengan influenza A lainnya,” jelas dr. Nastiti.





