SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena remaja yang lebih memilih curhat ke kecerdasan buatan (AI) dibandingkan orang tua mulai menjadi sorotan di Jawa Tengah. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal melemahnya komunikasi dalam keluarga di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si menilai, kecenderungan tersebut tidak lepas dari perubahan pola interaksi di era digital.
Menurutnya, anak-anak kini sangat akrab dengan teknologi, sementara orang tua kerap tertinggal dalam memahami perkembangan tersebut.
“Anak-anak sekarang memang dekat dengan teknologi. Sementara orang tua kadang tidak mengikuti, sehingga komunikasi tersumbat. Ada orang tua, sosoknya ada, tapi komunikasinya tidak ada,” ujar Probowatie kepada beritajateng.tv pada Sabtu, 18 April 2026.
Ia menjelaskan, AI menjadi pilihan karena kemudahan akses dan respons cepat yang diberikan.
“AI itu sekali pencet bisa langsung menjawab. Sementara orang tua mungkin sibuk atau tidak memahami. Akhirnya anak merasa lebih nyaman dengan AI,” jelasnya.
BACA JUGA: Main Air di Air Terjun Watu Bobot Jepara, Dua Remaja Meninggal Tenggelam
Namun demikian, Probowatie menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran komunikasi manusia dalam keluarga. Menurutnya, AI hanya memberikan jawaban umum tanpa memahami kondisi personal setiap individu.
“AI memang memberi jawaban, tapi tidak personal. Masalah patah hati satu dengan yang lain bisa beda, tapi jawabannya bisa sama. Padahal setiap anak butuh sentuhan manusia,” tegasnya.
Ia bahkan mengungkapkan, beberapa remaja yang datang untuk konseling kerap membawa referensi jawaban dari AI.
“Mereka datang lalu bilang, ‘kalau menurut AI begini, menurut Ibu bagaimana?’ Nah, di situ saya jelaskan bahwa tidak semua jawaban AI itu cocok dengan kondisi pribadi mereka,” tambahnya.
Probowatie menekankan pentingnya membangun kembali komunikasi dua arah dalam keluarga. Ia mendorong orang tua untuk mau belajar teknologi agar tidak tertinggal dari anak-anaknya.
“Orang tua juga harus belajar, tidak ada kata terlambat. Ajak diskusi anak, jangan sampai kalah dengan AI. Jadikan AI sebagai bahan diskusi, bukan sumber konflik,” ujarnya.
Kemajuan teknologi seperti AI tidak bisa terhindari. Namun, peran keluarga tetap menjadi kunci utama dalam membentuk kesehatan mental dan emosional anak.
“Teknologi tidak bisa dibendung, tapi komunikasi keluarga harus diperkuat. Semua harus belajar, baik anak maupun orang tua,” pungkas Probowatie.
Anak Curhat ke AI Berdasarkan Survei 35 Kabupaten/Kota di Jateng
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyoroti fenomena ini sebagai persoalan serius. Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno, mengungkapkan hasil survei DP3AP2KB di 35 kabupaten/kota menunjukkan banyak anak lebih memilih curhat ke AI dibanding keluarga.
“Anak-anak kalau ada masalah curhatnya ke siapa? AI, bukan ke keluarga, ke bapak ibunya. Ini kan memprihatinkan,” kata Sumarno.
BACA JUGA: Kasus Berakhir Damai, Remaja Korban Tuduhan Buang Bayi di Blora Bakal Terima Beasiswa dari Pemkab
Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari minimnya peran ayah (fatherless), hingga dampak media sosial yang memicu rasa iri dan rendah diri pada anak.
“Teknologi dan gadget juga menjadi pemicu konflik dalam keluarga. Ini tantangan besar untuk membangun keluarga yang kuat,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Pemprov Jateng mendorong penguatan peran keluarga melalui pengawasan penggunaan gadget serta meningkatkan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak. (*)
Editor: Farah Nazila




