Catatan Editor

Remake vs. Original: Siapa yang Bunuh Kreativitas di Dunia Film?

×

Remake vs. Original: Siapa yang Bunuh Kreativitas di Dunia Film?

Sebarkan artikel ini
farah nazila
Farah Nazila. (Dokumen Pribadi)

Yang satu ini, pastinya banyak yang sudah mengetahui, film Ghost in the Shell (2017), film live action remake anime Ghost in The Shell (2006) ini mendapati komentar pedas karena pemilihan aktor kulit putih atau whitewashing untuk memerankan karakter orang Jepang, Makoto Kusanagi.

Dengan banyaknya film remake ini, muncul pertanyaan, apakah film para sineas ini sudah kehilangan kreativitas? Alih-alih merekrut penulis dengan ide yang baik dan autentik, mereka justru memilih untuk mengambil film yang teranggap sebagai klasik dan mengubahnya. 

BACA JUGA: Screening Film Tepatilah Janji di XXI Paragon Semarang, KPU Jateng Akan Gelar Lagi di Tiga Kota Ini

Mengutip dari esai dalam Film School Rejects, salah satu film pertama yang di-remake adalah film Perancis L’Arroseur arrosé. Film garapan Lumiere bersaudara pada tahun 1895. Satu tahun kemudian, film ini di reproduksi oleh Georges Méliès dengan judul L’Arroseur.

Di kala itu, belum ada peraturan mengenai hak cipta. Sehingga, re-produksi film dengan mudah di lakukan sutradara yang berbeda bahkan dari negara yang berbeda sekalipun.

Alasan di balik banyaknya sineas untuk melakukan remake film ini pun adalah cuan dan teknologi. Ya, bagaimanapun juga, ekosistem perfilman tak akan jauh-jauh dari industri berorientasi bisnis. Dengan ini, mereka mengedepankan film sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Sehingga, unsur kreativitas dan orisinal film tersebut pun dikesampingkan.

Alasan kedua adalah kemajuan teknologi yang pesat, salah satunya adalah teknologi audio yang kini mendominasi di perindustrian film. Karena budget peralatan mahal tersebut mahal, jadilah para sineas ini mengambil ‘jalan praktis’ dengan remake film yang ceritanya sudah pasti orang sukai. Hal ini untuk menjamin kesuksesan filmnya di pasar.

Film klasik