SEMARANG, beritajateng.tv – Reservoir Siranda menjadi saksi bisu sejarah pembangunan Kota Semarang. Dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1912, infrastruktur air ini hingga kini masih berfungsi sebagai penopang kebutuhan air bersih masyarakat.
Pemerhati sejarah Semarang, Tri Subekso, menjelaskan bahwa Reservoir Siranda berdiri pada awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial mulai menata tata kota dan membangun infrastruktur modern.
“Pada inskripsi bangunan tertulis tahun 1912. Artinya sejak masa itu Belanda sudah membangun sarana penampungan air untuk menunjang kebutuhan masyarakat, seiring pembangunan kawasan perumahan di Candi, Sompok, hingga fasilitas publik lain,” ungkap Tri.
BACA JUGA: Saat Penemuan Mayat, Reservoir Siranda Hanya Sedalam 2 Meter, PDAM: Menandakan Tak Beroperasi
Selain tangki penampungan, Belanda juga membangun rumah jaga di kawasan reservoir pada tahun 1923. Air yang di tampung berasal dari sumber di Mudal, Gunungpati, yang merupakan bagian dari kaki Gunung Ungaran.
Tidak hanya Siranda, Belanda juga membangun reservoir lain di Semarang, seperti Keploh dan Jomblang. Namun, Siranda menjadi salah satu yang bertahan dan tetap di fungsikan hingga sekarang di bawah pengelolaan PDAM Kota Semarang.
“Reservoir ini bukan hanya bangunan bersejarah, tapi juga bukti bagaimana tata kota modern sudah mulai di pikirkan sejak zaman kolonial,” tambah Tri.
Viral Karena Penemuan Mayat
Nama Reservoir Siranda belakangan kembali menjadi sorotan publik setelah ada penemuan mayat seorang pemuda bernama Dion Kusuma Pratama (20) di dalam tandon pada Sabtu, 16 Agustus 2025.
Dion sebelumnya dilaporkan hilang sejak 29 Juli 2025. Dari rekaman CCTV, pada 31 Juli sekitar pukul 05.00 WIB korban terlihat berjalan di dekat reservoir dan memanjat pagar. Polisi yang menindaklanjuti laporan kemudian menemukan korban mengambang di dalam reservoir.
BACA JUGA: Misteri Temuan Jasad Pria di Reservoir Siranda Semarang: Korban Panjat Pagar TKP Pukul 5 Pagi
Misteri kematian Dion masih menyisakan tanda tanya besar. Pihak kepolisian kini mendalami penyebab kejadian tersebut.
Meski demikian, di balik tragedi tersebut, Reservoir Siranda tetap menyimpan nilai sejarah yang tinggi sebagai salah satu peninggalan Belanda yang terus memberi manfaat bagi masyarakat Semarang hingga lebih dari satu abad lamanya. (*)




