Ketua IDI Jateng, dr Djoko Handojo mengatakan, setiap tahunnya jumlah penderita kanker baru selalu bertambah 10 persen dari jumlah penderita kanker tahun sebelumnya.
“Untuk mengetahui penyebabnya, itu bukanlah hal yang mudah. Jadi tidak bisa suatu daerah sebagai kawasan industri kemudian dinyatakan banyak kasus dari sana, ” tutur Djoko.
Terkait deteksi dini kanker, Djoko mengatakan jika mayoritas anak menderita leukemia, retinoblastoma, kegagalan ginjal, untuk deteksi dini semua bergantung dari penyakit masing-masing. Misal retinoblastoma tiba-tiba anak merasa silau.
Ada pula Leukemia yang merupakan kanker jaringan pembentuk darah atau biasa dikenal kanker darah. Penyakit ini karena karsinogenik dan bisa juga genetik yang di serang inti dari selnya.
Menurutnya, paling banyak ditemui kasus kanker di masyarakat adalah kanker payudara dan kanker kulit. “Sedangkan pada anak-anak umumnya kanker darah (leukemia),” ungkapnya.
Oleh karena itu dia mengajak masyarakat agar peduli dan sayang pada tubuhnya, dengan menerapkan pola hidup sehat termasuk mengkonsumsi makanan bergizi agar terhindar dari kanker.
“Kalau ada sesuatu, bukan hanya kanker saja. Langsung saja dikonsultasikan pada ahlinya, ke dokter. Sehingga jika ada hal yang tidak biasa pada pemeriksaan awal bisa segera mencari pertolongan ke dokter, ” ujar Djoko.
Pada kesempatan itu, dokter yang merupakan Sub Spesialis Bedah Konsultan Unpologi (Tumor) ini mengimbau pada masyarakat yang mengalami gejala-gejala yang mengarah kanker bisa segera melakukan deteksi dini ke dokter spesialis.
“Jika sudah menunjukkan gejala seperti tumor, atau tiba-tiba ada benjolan kecil harus segera ke dokter,” imbuhnya.
Menurut Djoko, kanker merupakan salah satu penyakit ganas dan belum ada obatnya. “IDI meminta masyarakat menjaga pola hidup sehat dengan rutin berolahraga dan makan makanan bergizi,” kata Djoko.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam mengatakan, sebagai seorang dokter pihaknya selalu melakukan upaya edukasi kepada masyarakat.





