Ia menambahkan, selama pengaruh tersebut masih melekat pada Jokowi, PSI berpeluang tetap eksis. Namun untuk memenangkan pemilu, menurutnya, terdapat variabel lain yang bekerja, yakni persepsi dan dukungan publik.
PSI Tak Laku di Daerah yang Warganya Kritis
Di sisi lain, NHS menyampaikan pandangannya terkait segmentasi pemilih. Menurut NHS, dalam kondisi sumber daya politik yang besar serta pengaruh figur yang kuat, PSI masih dapat bertahan pada kelompok pemilih tertentu.
“Tapi yang jelas PSI tidak akan laku di daerah yang orangnya kritis. Makin tinggi pendidikan ya, biasanya makin akan menggerus dia. Namun dalam situasi begitu, dengan resource yang begitu besar yang partai ini miliki, termasuk pengaruh Pak Jokowi itu, maka dia akan berlaku kepada dependensi population. Jadi populasi yang masih tergantung pada keadaan,” ujarnya.
BACA JUGA: DPW PSI Jawa Tengah Klarifikasi Pengunduran Diri DPC Kota Semarang, Ketum: Hanya 6, Bukan 13
Ia menyebut, secara kasar terdapat sekitar 30 persen populasi yang tingkat pendidikannya tidak lulus SMP atau hanya sampai SMP. NHS menegaskan, eksistensi PSI di masa depan tetap akan sangat ditentukan oleh kekuatan figur, persepsi publik, serta dinamika dukungan politik di akar rumput.
“Dan kita tahu bahwa ada 30 persen lah kira-kira populasi kita yang tidak lulus SMP maupun pendidikan SMP yang ‘setiap hari selamat datang kami tunggu bansos’,” pungkasnya.
Kecewa atas penetapan Bangkit sebagai Ketua DPC PSI Kota Semarang
Sebelumnya, alasan 13 pengurus DPC PSI Kota Semarang mundur lantaran kecewa dengan sikap Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jawa Tengah yang dianggap tak menyerap aspirasi di akar rumput.
“Kami para DPC yang mengundurkan diri [sebagai pengurus] sepakat mulai malam ini menjadi kader PSI biasa,” ujar Wakil Ketua DPD PSI Kota Semarang. Bayu Romawan,
Bayu mengaku suara dari DPC PSI Kota Semarang sudah tidak DPW PSI Jawa Tengah dengarkan. Salah satunya terkait dengan pencopotan Bangkit Mahanantyo sebagai Ketua DPC PSI Kota Semarang.




