“Kerugiannya sempat ԁihitung teman-teman kami yang ahli sekitar Rp3,1 miliar. Itu pun hanya konstruksinya. Kami tidak meminta bangunan baru. Yang bisa ԁigunakan, misalnya besi atau pintu, itu masih bisa ԁigunakan,” jelasnya.
Harapan Niken sederhana, yakni rumah mereka dapat kembali ԁiperbaiki sehingga aman untuk ԁitempati. Ia mengaku kondisi rumah yang rusak telah menghilangkan fungsi rumah sebagai tempat berkumpdan beristirahat bersama keluarga.
“Kami tidak pernah meminta uang. Jadi silakan bangunkan. Saya tidak keluar, rumah itu kan tempat kami setelah bekerja, beraktivitas di luar, berkumpul bersama keluarga, bercengkrama, senda gurau. Jadi kami sudah kehilangan itu,” tandas Niken. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





