SEMARANG, beritajateng.tv – Ajang Rupiah Borobudur Playon 2026 tidak hanya menghadirkan olahraga dan wisata, tetapi juga membawa misi lingkungan melalui program pengelolaan sampah di kawasan Borobudur.
Dana hasil pendaftaran peserta untuk membantu pengadaan unit pengolahan sampah di sejumlah desa sekitar kawasan wisata prioritas nasional tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Noor Nugroho mengatakan konsep “Lari untuk Berbagi”. Pada tahun ini berfokus untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar Borobudur, khususnya dalam penanganan sampah.
“Tahun ini kami bertemu dengan Bupati Magelang dan salah satu kebutuhan yang mereka sampaikan adalah pengembangan pengolahan sampah. Karena itu, kami mencoba menghadirkan solusi melalui kegiatan ini,” ujar Noor saat peluncuran Rupiah Borobudur Playon 2026 di Semarang.
Menurut Noor, bantuan pengelolaan sampah nantinya tidak dibagikan ke seluruh desa. melainkan berpusat di beberapa titik strategis agar proses pengumpulan dan pengolahan sampah dari desa sekitar bisa berjalan lebih efektif.
BACA JUGA: 4.000 Pelari Ditargetkan Bakal Meriahkan Rupiah Borobudur Playon 2026, Padukan Sport Tourism dan Edukasi Keuangan
Ia berharap program tersebut mampu menjadi langkah awal dalam mengatasi persoalan sampah di kawasan Candi Borobudur yang terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan nasional.
“Kami ingin program ini bersifat green dan berkelanjutan sehingga dampaknya bisa masyarakat rasakan dalam jangka panjang,” katanya.
Selain mengusung isu lingkungan, Rupiah Borobudur Playon 2026 juga menargetkan mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Sebanyak 4.000 pelari dan sekitar 6.000 pengunjung bakal meramaikan event pada 4–5 Juli 2026 di kawasan Taman Lumbini Borobudur.
Ajang tahunan hasil kolaborasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu menghadirkan dua kategori lomba, yakni 5K dan 10K.
Penyelenggara juga menyiapkan berbagai kegiatan pendukung seperti pameran UMKM, edukasi keuangan, promosi transaksi digital QRIS, hingga hiburan masyarakat.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno menilai persoalan sampah menjadi tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.





