Banyak pejabat kita, aparat-aparat yang sesungguhnya mereka berkewajiban untuk melindungi, menjaga, dan mensejahterakan rakyat, justru mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mengkhawatirkan. Membuat rakyat menjadi kecewa dan putus asa, karena seolah-olah tidak ada lagi yang benar,” bebernya.
Ia menegaskan, negara harus kembali pada prinsip dasar demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Shinta juga menyatakan komitmennya untuk terus memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Kita akan terus memperjuangkan rakyat,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengapresiasi konsistensi Shinta Nuriyah dalam merawat tradisi sahur lintas komunitas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu penguat identitas Semarang sebagai kota toleran.
BACA JUGA: Rekomendasi Menu Sahur Sederhana, Tetap Nikmat Meski Low Budget
Ia menilai capaian indeks kota toleran tidak lepas dari kedewasaan masyarakat dalam menjaga kerukunan. Harmoni, kata dia, merupakan hasil dari proses panjang saling memahami antarwarga.
“Harmoni ini tidak hadir dengan sendirinya, hal itu dibangun dan hasil dari kesediaan untuk saling memahami,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agustina juga menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam memperluas akses bagi penyandang disabilitas melalui pembangunan rumah inspirasi disabilitas di 16 kecamatan. Hingga kini, tujuh kecamatan telah merealisasikannya.
“Baru tujuh yang berhasil di realisasikan. Mudah-mudahan dengan doa dan restu, seluruh disabilitas dapat menikmati akses dan ruang yang setara,” tegasnya. (*)
Editor: Farah Nazila




