Asisten pelatih Samator, Sigit Ari Widodo, mengakui timnya sempat kehilangan fokus di awal laga. Namun, ia melihat perubahan signifikan setelah set pertama.
“Di set kedua, anak-anak mulai menemukan ritme. Mereka bermain lebih tenang dan fighting spirit kembali muncul. Itu yang jadi kunci kemenangan,” ujar Sigit usai pertandingan.
Menurutnya, kemenangan ini bukan sekadar tambahan poin, melainkan pembuktian karakter tim setelah sebelumnya kalah dari Jakarta LavAni Livin’ Transmedia dan Jakarta Bhayangkara Presisi.
“Ini soal harga diri. Secara teknik kami masih bisa bersaing di level tertinggi,” tegasnya.
Di kubu lawan, pelatih Garuda Jaya, Nur Widayanto, menilai timnya tampil menjanjikan di awal, namun gagal menjaga konsistensi hingga akhir laga.
“Kami masih punya banyak pekerjaan rumah. Komunikasi antar pemain sering terputus di momen penting, servis juga banyak error, dan mental bertanding masih perlu ditingkatkan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti faktor pengalaman yang menjadi pembeda dalam pertandingan tersebut.
“Sebagian besar pemain kami masih junior. Di set keempat, tekanan mental sangat terasa,” tambahnya.
Meski hasil laga tak memengaruhi posisi klasemen, pertandingan ini menjadi panggung pembuktian bagi Samator, Sekaligus pelajaran berharga bagi Garuda Jaya dalam menghadapi kerasnya kompetisi Proliga 2026. (*)
Editor: Elly Amaliyah





