SEMARANG, beritajateng.tv – Persaingan di dunia kerja semakin ketat seiring munculnya fenomena inflasi gelar. Kini, banyak perusahaan mensyaratkan gelar sarjana untuk posisi yang sebelumnya tidak membutuhkannya. Akibatnya, ijazah S-1 bahkan S-2 tak lagi menjadi keunggulan kompetitif, melainkan sekadar standar minimum.
Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subhan, menjelaskan bahwa secara regulasi pemerintah sebenarnya telah menyiapkan panduan kurikulum bagi perguruan tinggi agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja, termasuk menghadapi tantangan era ԁigital.
“Jadi memang sudah ԁibuatkan panduan agar kurikulumnya itu bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Termasuk tantangan abad 21 ini, kemudian juga digitalisasi hampir di semua sektor pekerjaan dan seterusnya. Jadi sudah pemerintah arahkan ke situ,” ujar Edi saat beritajateng.tv konfirmasi pada Rabu, 8 April 2026.
Meski demikian, menurut Edi, implementasi di tingkat kampus masih belum merata. Banyak perguruan tinggi yang masih berproses dalam menyesuaikan kurikulum, terlebih jumlah kampus di Indonesia sangat banyak dengan kualitas yang beragam.
“Apalagi kampus-kampus tidak semuanya itu memenuhi standar, dalam arti mungkin akreditasinya masih kurang dengan kita bisa lihat dari sarana-prasarana yang kurang dan seterusnya. Nah, itu juga salah satu pengaruhnya. Jadi walaupun orientasi dari pemerintah sudah benar tapi ketika kampus belum bisa mengikuti juga sangat besar kemungkinan kualitas kurikulum dan perkuliahanya belum memadai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kualitas pendidikan tinggi juga sangat ԁipengaruhi oleh proses perkuliahan serta kemampuan kampus membangun jaringan dengan dunia industri. Hal ini penting agar lulusan memiliki peluang kerja yang sesuai dengan bidang studinya.
Inflasi Gelar Sarjana, Dorong Perkuat Program Magang Bagi Mahasiswa
Salah satu solusi yang ԁinilai efektif adalah memperkuat program magang atau praktik kerja bagi mahasiswa, terutama di tingkat akhir.





