SEMARANG, beritajateng.tv – Film horor terbaru 2025 berjudul Angkara Murka menggabungkan beberapa unsur menarik antara teror mistis dan kritik sosial.
Kisah dari film ini menandai debut sutradara Eden Junjung setelah sukses di beberapa film horor sebelumnya.
Lalu bagaimana keseruan dari film tersebut? Sebelum menyaksikannya di bioskop, simak berikut informasi terkait reviewnya.
Review Film Horor Angkara Murka
Berlatar di kaki Gunung Merapi, Eden Junjung berhasil menampilkan sinematografi yang memadukan pesona alam pedesaan dengan atmosfer yang mencekam.
Kesunyian lokasi tambang pasir dan kabut pegunungan mempertegas nuansa keterasingan, membuat setiap adegan terasa mengandung ancaman terselubung.
BACA JUGA: Daftar 3 Film Horor Paling Seram yang Siap Tayang Bulan Juni Mendatang, Lengkap dengan Sinopsisnya
Memiliki musik latar yang menegangkan, film ini membangun rasa cemas tanpa bergantung pada jumpscare murahan.
Ketegangan berkembang secara perlahan melalui tempo lambat dan visual detail, seperti bayangan samar atau suara aneh yang menciptakan kesan bahwa kita selalu terawasi.
Film ini mengisahkan tentang Ambar (Raihaanun), seorang ibu muda yang berusaha menemukan suaminya, Jarot (Aksara Dena), yang menghilang secara misterius di area tambang pasir di lereng Gunung Merapi.
Mandornya, Lukman (Simhala Avadana), Ambar menghadapi teror tak kasatmata sambil terus mencari sang suami. Di tengah tekanan berat dari lingkungan tambang, Ambar harus berjuang untuk bertahan hidup.
Raihaanun tampil memukau dengan gaya akting yang tenang dan minim ekspresi, namun berhasil menunjukkan ketangguhan karakter Ambar dalam menghadapi dunia patriarkal yang keras.
Menariknya, tokoh-tokoh seperti Ambar, Lukman, hingga Raden Broto (Whani Darmawan) tergambarkan dengan karakter yang tidak sepenuhnya hitam atau putih.
BACA JUGA: Berikut Daya Tarik Film Final Destination 2025, Wajib Nonton!
Penggambaran ini menambah elemen misteri yang memperdalam ketegangan psikologis, sehingga penonton terus dibuat bertanya-tanya tentang motif sebenarnya dari masing-masing karakter.
Di balik lapisan horor supranaturalnya, Angkara Murka juga mengangkat isu-isu sosial penting seperti eksploitasi buruh tambang, praktik perbudakan modern, serta dampak lingkungan dari aktivitas penambangan.





