Perubahan zaman juga membawa dampak pada pola kehadiran jamaah. Kini sema’an disiarkan melalui YouTube sehingga masyarakat bisa mengikuti dari rumah. Meski demikian, kehadiran langsung di masjid tetap memiliki nilai spiritual tersendiri.
Pada masa lalu, bahkan ada jamaah dari luar daerah yang sengaja datang dan menginap di penginapan sekitar masjid demi mengikuti sema’an selama satu bulan penuh. Tradisi itu kini mulai berkurang karena akses digital semakin mudah.
BACA JUGA: Imlek dan Ramadhan 2026 Berdekatan, Wali Kota Semarang Ajak Warga Perkuat Toleransi dan Harmoni
Muhaimin menegaskan pihak takmir tetap berkomitmen menjaga tradisi tersebut sekaligus menyiapkan kader generasi penerus. Dokumentasi ceramah para kiai disimpan sebagai referensi pembelajaran bagi generasi mendatang.
“Yang penting kegiatan ini terus berjalan. Harus ada kader yang melanjutkan, supaya masyarakat tetap dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya.
Tradisi sema’an Al-Qur’an di Masjid Agung Kauman Semarang pun menjadi bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga perjalanan spiritual menuju perubahan diri yang lebih baik. (*)
Editor: Farah Nazila





