SEMARANG, beritajateng.tv — Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar khidmat dari salah satu ruangan di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Belasan santri lanjut usia (lansia) membaca Alquran dengan teliti dan penuh kesungguhan, didampingi para pembimbing yang sabar membenarkan pelafalan dan tajwid mereka.
Meski usia tak lagi muda, para santri tetap bersemangat belajar agar mampu membaca Alquran secara tartil dan benar. Setiap santri di dampingi satu pembimbing yang sekaligus berperan sebagai perawat, mengingat sebagian besar dari mereka memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Setiap bulan suci Ramadhan, pesantren yang berada di Desa Gedong ini menerima puluhan lansia dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memilih mondok selama satu bulan penuh untuk memperdalam ilmu agama sekaligus memperkuat spiritualitas di bulan penuh berkah.
BACA JUGA: 7 Tema Materi Ceramah Ramadhan 2026, Cocok untuk Kultum dan Kuliah Subuh
Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Muhamad Solikin, menjelaskan bahwa materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan para lansia.
“Kami memberikan pembelajaran membaca Alquran, kajian agama, fiqih, serta pemahaman tentang menjaga kondisi fisik. Karena mayoritas santri sudah berusia lanjut,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap santri mendapat pendampingan perawat karena beberapa di antaranya memiliki riwayat penyakit seperti diabetes melitus dan hipertensi. Menu sahur dan berbuka pun disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing agar kondisi tubuh tetap stabil selama menjalankan ibadah puasa.
“Tantangannya memang ada, karena beberapa santri membutuhkan perlakuan khusus. Tapi kami berupaya agar mereka tetap nyaman dan semangat belajar,” tambah Solikin.
Tak hanya belajar agama, para santri lansia juga di ajak mengikuti kegiatan produktif seperti beternak kambing dan berkebun. Kegiatan ini bertujuan menjaga semangat serta membekali mereka dengan keterampilan sederhana yang dapat menopang perekonomian di usia senja.
“Salah satu persoalan lansia adalah penurunan kondisi ekonomi. Kegiatan ini menjadi solusi kecil agar mereka tetap produktif sesuai minat masing-masing,” ujarnya.
Salah satu santri asal Manokwari, Papua Barat, Sih Lamirah (65), mengaku telah belajar di pesantren tersebut sejak dua tahun terakhir. Namun, baru pada Ramadhan kali ini ia memutuskan untuk mondok selama satu bulan penuh.
“Sekarang saya sudah sampai juz 29. Selain belajar mengaji, saya juga belajar akhlak dan fiqih sebagai bekal kehidupan di akhirat,” ungkap pensiunan guru tersebut.
BACA JUGA: Memahami Hukum Mandi Sebelum Menjalankan Puasa Ramadhan, Berikut Pengertiannya
Ia mengaku merasa nyaman karena mayoritas santri seusia dengannya dan berasal dari berbagai daerah. “Teman sekamar saya dari Pontianak, juga pensiunan. Kalau ngobrol nyambung,” katanya sambil tersenyum.
Bagi para santri lansia di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Ramadhan bukan sekadar menjalankan ibadah puasa, tetapi juga momentum memperdalam ilmu, memperkuat iman, dan mengisi hari tua dengan aktivitas yang bermakna. (*)
Editor: Farah Nazila





