“Semarang ini karakteristiknya unik ya, ada wilayah pegunungan, ada pesisir, ada lautnya juga. Jadi siklus sampahnya sangat cepat juga, dari pegunungan masuk ke sungai, lalu dari sungai masuk ke laut,” paparnya.
Pihaknya telah melakukan riset di Kecamatan Tugu tepatnya di wilayah Mangkang Wetan. Dimana ternyata sampah plastik atau bahan baku ini sudah sampai di pinggir pantai.
“Ini yang ingin sekali Pemerintah Kota Semarang atasi dan fokuskan, yaitu untuk mengubah limbah menjadi energi berupa bahan bakar minyak,” bebernya.
“Mudah mudahan bisa direplikasi, utamanya penggunaan bahan bakar untuk mesin diesel. Seperti petani menggerakkan hand traktor, menggerakkan combine hardvester, menggerakan mesin pemotong rumput yang membutuhkan bahan bakar setara solar,” kata dia.
Bantu Petani dan Nelayan
Dengan mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar setara solar, kata Tri, tentu akan membawa manfaat bagi petani dan nelayan.
“Seperti kata bu Walikota. Tidak perlu menyediakan barcode untuk beli solar di SPBU tapi bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Ini konsep ekonomi circular yang kita ciptakan,” imbuh dia.
Senada, Budi Trisno Aji inisiator Bank Sampah Banjarnegara mengatakan, teknologi Faspol ini berawal dari kerja sama dengan BRIN.
“Awalnya, kami hanya mampu mengolah 50 kg sampah plastik dan menghasilkan 50 liter BBM Petasol. Namun sekarang sudah bisa mengolah 400 kg sampah dan menghasilkan 400 liter per hari,” ujar Trisno.
Dia mengaku jika teknologi tersebut penerapannya di satu kawasan Bank Sampah yang dikelola warga secara mandiri. Bank Sampah tersebut berlokasi di Jalan Karangjambe Rt 02/02, Kasilib, Kasalib, kec. Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
“Petasol yang kita hasilkan dari sampah plastik oleh masyarakat sekitar, petani untuk gilingan padi, traktor dan yang lain itu lewat komunitas bank sampah,” imbuhnya.
Sementara itu, Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menyambut baik inovasi BBM setara bio solar dari sampah plastik tersebut.





