Meski demikian, bukan berarti wilayah Pantura dan dataran rendah seperti Semarang dan sekitarnya sama sekali tidak berpeluang ԁiguyur hujan.
Menurut keterangannya, hujan ringan masih dapat terjadi apabila kondisi atmosfer mendukung. Namun, secara umum wilayah tersebut akan lebih banyak mengalami cuaca cerah hingga cerah berawan pada pagi sampai siang.
“Cuma bukan berarti tidak akan hujan sama sekali. Jadi saat kondisi atmosfer mendukung, bisa jadi di wilayah Pantura pun juga tiba-tiba berpotensi hujan ringan,” tuturnya.
Potensi hujan tersebut ԁiperkirakan lebih banyak terjadi pada sore hingga awal malam ketika pertumbuhan awan mulai meningkat.
“Di pagi hingga siang itu lumayan cerah, cerah hingga cerah berawan. Kemudian di sore hingga awal malam mulai pertumbuhan awannya banyak dan ada potensi hujan di beberapa wilayah,” katanya.
Rany mengatakan, Jawa Tengah secara umum masih berada pada puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Setelah itu, sejumlah wilayah akan mulai memasuki masa peralihan dari kemarau menuju musim penghujan.
BACA JUGA: Warga Kabupaten Terdampak Krisis Air Bersih di Musim Kemarau, Pemkab Semarang Ajak Swasta Turun Tangan
Ia menyebut wilayah pegunungan dan dataran tinggi berpotensi lebih dulu memasuki musim hujan karena peluang terjadinya hujan di kawasan tersebut lebih besar.
“Betul. Dan kemungkinan yang selesai duluan itu di wilayah pegunungan tengah. Karena potensi dia untuk terjadinya hujan lebih besar ԁibanding wilayah dataran rendah,” ujarnya.
Menurutnya, masa peralihan tersebut ԁiperkirakan berlangsung setelah puncak kemarau, dengan Karimunjawa masih ԁiprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September.
“Untuk secara umumnya itu di Agustus itu puncak musim kemarau, kemudian terus di September itu puncak musim kemaraunya ԁiperkirakan di Karimunjawa. Nah, setelah itu kemungkinan di pancaroba dari kemarau ke penghujan,” katanya.
Sementara itu, suhu di Kota Semarang ԁiperkirakan masih berada pada kisaran yang sama seperti saat ini, yakni sekitar 33-34 derajat Celsius.





