Jateng

Semarang ‘Sumuk’ Sampai Malam Hari, BMKG Sebut El Nino dan IOD Biang Keladinya

×

Semarang ‘Sumuk’ Sampai Malam Hari, BMKG Sebut El Nino dan IOD Biang Keladinya

Sebarkan artikel ini
Semarang 'Sumuk' Sampai Malam Hari, BMKG Sebut El Nino dan IOD Biang Keladinya
Analis Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana menunjukkan cuaca kota Semarang yang panas akibat Elly Nino dan IOD. (Ellya/beritajateng.tv)

Kondisi ini membuat pembentukan awan tidak otomatis mengakhiri cuaca kering. Kelembapan yang rendah akibat kombinasi El Nino kuat dan IOD positif membuat awan sulit berkembang menjadi hujan.

“Karena El Nino yang kuat dan ditambah IOD positif, membuat kelembapan rendah. Sehingga awan-awan yang dibangkitkan Equatorial Rossby tadi tidak mampu menjadi hujan,” jelasnya.

Inilah yang membuat malam hari di Semarang tetap terasa gerah dan sumuk. Setelah menerima panas cukup tinggi sepanjang siang, kondisi atmosfer yang kering membuat udara tidak serta-merta berubah menjadi sejuk pada malam hari.

“Dari situlah malam hari yang seharusnya dingin saat musim kemarau justru menjadi gerah,” katanya.

Siang Terik, Malam Belum Tentu Sejuk

Rasa panas tersebut juga berkaitan dengan posisi semu Matahari. Pada September hingga Oktober, pergerakan semu Matahari berada di wilayah belahan Bumi selatan.

Kondisi itu turut membuat intensitas panas pada siang hari terasa lebih kuat di wilayah Jawa Tengah. Panas yang tinggi pada siang hari kemudian menjadi bagian dari kondisi yang membuat malam terasa kurang nyaman.

“Pada bulan September hingga Oktober, pergerakan semu Matahari berada pada belahan Bumi selatan sehingga panas kemarau terasa sangat terik,” kata Zauyik.

Kombinasi cuaca kering, kelembapan rendah, dan teriknya Matahari membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi tubuh.

BMKG mengimbau masyarakat mengurangi paparan langsung sinar Matahari, terutama ketika kondisi panas sedang tinggi. Asupan air juga perlu kita perbanyak untuk mencegah dehidrasi.

“Kami meminta masyarakat menghindari terpapar langsung sinar Matahari serta banyak mengonsumsi air agar terhindar dari dehidrasi,” ujar Zauyik.

Kemarau Kering Tingkatkan Risiko Kebakaran

Cuaca yang kering juga membawa risiko lain. Material seperti rumput, daun kering, dan sampah lebih mudah terbakar ketika kelembapan lingkungan rendah.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh potensi kebakaran selama periode kemarau. Aktivitas yang dapat memicu api perlu Masyarakat hindari, terutama di lingkungan dengan banyak material kering.