Kholik menilai istilah menu kering selama Ramadan bisa menimbulkan tafsir berbeda di lapangan.
“Mungkin ini juga masih puasa yang pertama dan masih memberlakukan itu dengan pilihan menu makanan kering. Lah ini sepertinya pengertian kering ini kan menjadi multi interpretasi juga ya,” ujarnya.
Ia mengusulkan agar ada standar pilihan menu khusus Ramadan agar penyelenggara SPPG memiliki panduan yang jelas.
“Coba, bisa enggak, ada buat standar pilihan menu ya. Pilihan menu yang bisa SPPG ambil itu ya, bahwa daftar menu kering bulan Ramadan apa saja sih?” katanya.
BACA JUGA: Mahasiswa Desak Polisi Tak Ikutan Bikin Dapur MBG: Ibarat Divisi Keamanan Rebut Kerjaan Sie Konsumsi
Selain itu, Kholik mengusulkan agar siswa atau sekolah diberi ruang menyampaikan preferensi menu. Menurutnya, pola tersebut bisa membantu dapur menyiapkan makanan lebih baik dan menghindari kasus makanan tidak layak.
“Atau sebaliknya, bisa enggak dapur itu memberi kesempatan kepada siswa atau melalui sekolah itu usulan menunya gitu loh. Misalnya minggu pertama sudah dikirim daftar menu ke sekolah, coba siswa cenderung yang mana? Jadi dapur juga bisa mempersiapkan lebih awal dan lebih bagus untuk menghindari tadi kasus-kasus yang sudah berjamur dan seterusnya,” tambahnya.
Saat terjun langsung ke masyarakat, Kholik juga mendengar adanya makanan yang tidak siswa konsumsi.
“Saya juga mendengar ya banyak yang anak-anak atau siswa itu yang dapat telur itu enggak mereka makan. Enggak makan itu telurnya. Ada yang dikumpulkan kemudian apakah ditukar makanan lain tuh ada saya dengar-dengar seperti itu,” ujarnya.
Kholik Dorong SPPG Evaluasi, Usulkan Jeda MBG Selama Ramadan
Menanggapi desakan sebagian orang tua yang mengusulkan program MBG mandek sementara, Kholik sependapat bahwa program tersebut perlu evaluasi selama Ramadan.
“Kalau saya cenderung itu memang harus evaluasi dan kita masih punya dua minggu Ramadan,” katanya.
Ia membuka kemungkinan adanya jeda sementara jika pelaksanaan dinilai menyulitkan dan memicu banyak komplain.





