SEMARANG, beritajateng.tv – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) edisi Ramadan kembali menuai sorotan. Anggota DPD RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik, menegaskan menu MBG kering tetap harus memenuhi standar gizi dan tidak boleh membahayakan kesehatan siswa.
Sebelumnya, sebanyak 349 roti dalam paket MBG edisi Ramadan di SMPN 5 Blora terpaksa dikembalikan ke dapur penyedia. Roti dengan topping keju putih tersebut tidak dibagikan kepada siswa setelah ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Di media sosial, juga beredar sejumlah unggahan yang menampilkan paket MBG kering dinilai tidak layak, seperti roti, tempe orek dalam kemasan plastik, hingga buah yang tampak tidak segar. Unggahan tersebut memicu kritik dari orang tua siswa dan warganet.
“Pertama saya konsisten ya bahwa program ini namanya makan bergizi ya. Jadi, makan bergizi maka makanannya harus bergizi gitu ya. Itu satu prinsipnya,” ujar Kholik saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Minggu, 1 Maret 2026.
Kholik menyayangkan masih adanya temuan menu yang bermasalah, termasuk kasus roti berjamur di Blora.
“Nah, yang kedua, tentu kita menyayangkan dan menyesalkan kalau masih ada menu-menu makanan yang membahayakan. Tadi misalnya ada yang sudah berjamur dan seterusnya. Harus pahami risiko siswa itu kan bisa berbeda-beda ketika mengkonsumsi makanan yang bermasalah seperti itu,” kata dia.
Ia mengingatkan, kondisi kesehatan siswa berbeda-beda, sehingga konsumsi makanan yang tidak layak bisa berdampak serius.
“Dalam hal kondisi siswa tidak fit, kemudian makan makanan yang seperti itu, saya khawatirnya nanti ada kejadian yang membuat kondisinya bisa parah terhadap siswa gitu loh. Makanya mohon betul ini kepada SPPG di Jawa Tengah untuk bisa menjaga betul kualitas sajian makanan bergizi untuk siswa,” tegasnya.
Nilai Menu Kering MBG Multitafsir, Kholik Usul Ada Standar dari Badan Gizi Nasional (BGN)
Kholik menilai istilah menu kering selama Ramadan bisa menimbulkan tafsir berbeda di lapangan.
“Mungkin ini juga masih puasa yang pertama dan masih memberlakukan itu dengan pilihan menu makanan kering. Lah ini sepertinya pengertian kering ini kan menjadi multi interpretasi juga ya,” ujarnya.
Ia mengusulkan agar ada standar pilihan menu khusus Ramadan agar penyelenggara SPPG memiliki panduan yang jelas.
“Coba, bisa enggak, ada buat standar pilihan menu ya. Pilihan menu yang bisa SPPG ambil itu ya, bahwa daftar menu kering bulan Ramadan apa saja sih?” katanya.
BACA JUGA: Mahasiswa Desak Polisi Tak Ikutan Bikin Dapur MBG: Ibarat Divisi Keamanan Rebut Kerjaan Sie Konsumsi
Selain itu, Kholik mengusulkan agar siswa atau sekolah diberi ruang menyampaikan preferensi menu. Menurutnya, pola tersebut bisa membantu dapur menyiapkan makanan lebih baik dan menghindari kasus makanan tidak layak.
“Atau sebaliknya, bisa enggak dapur itu memberi kesempatan kepada siswa atau melalui sekolah itu usulan menunya gitu loh. Misalnya minggu pertama sudah dikirim daftar menu ke sekolah, coba siswa cenderung yang mana? Jadi dapur juga bisa mempersiapkan lebih awal dan lebih bagus untuk menghindari tadi kasus-kasus yang sudah berjamur dan seterusnya,” tambahnya.
Saat terjun langsung ke masyarakat, Kholik juga mendengar adanya makanan yang tidak siswa konsumsi.
“Saya juga mendengar ya banyak yang anak-anak atau siswa itu yang dapat telur itu enggak mereka makan. Enggak makan itu telurnya. Ada yang dikumpulkan kemudian apakah ditukar makanan lain tuh ada saya dengar-dengar seperti itu,” ujarnya.
Kholik Dorong SPPG Evaluasi, Usulkan Jeda MBG Selama Ramadan
Menanggapi desakan sebagian orang tua yang mengusulkan program MBG mandek sementara, Kholik sependapat bahwa program tersebut perlu evaluasi selama Ramadan.
“Kalau saya cenderung itu memang harus evaluasi dan kita masih punya dua minggu Ramadan,” katanya.
Ia membuka kemungkinan adanya jeda sementara jika pelaksanaan dinilai menyulitkan dan memicu banyak komplain.
“Saya kira kalau memang itu menyulitkan SPPG dan kemudian komplain dari orang tua juga muncul. Ya saya kira ada jeda waktu untuk bulan puasa ini; jeda untuk dapur juga bisa menyiapkan lebih baik pasca puasa gitu,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





