Hukum & Kriminal

Senior PPDS Undip Zara Yupita Azra Dituntut 1,5 Tahun Penjara, Terbukti Lakukan Kekerasan Fisik-Ekonomi

×

Senior PPDS Undip Zara Yupita Azra Dituntut 1,5 Tahun Penjara, Terbukti Lakukan Kekerasan Fisik-Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Zara Yupita Azra
Dokter Zara Yupita Azra (ZYA) usai pembacaan tuntutan JPU di Pengadilan Negeri Semarang, Rabu, 10 September 2025. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dokter Zara Yupita Azra (ZYA), terdakwa dalam kasus pemerasan dan perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Undip, dituntut hukuman pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Tuntutan itu jatuh kepada Zara dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Semarang, Rabu, 10 September 2025.

Jaksa Penuntut Umum, Efrita, menyebut Zara terbukti melanggar Pasal 368 ayat (1) KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagaimana dalam dakwaan alternatif pertama dari Penuntut Umum.

“Kedua, menjatuhkan pidana oleh karena itu dengan pidana selama 1 tahun dan 6 bulan, kurangi dengan masa penangkapan dan masa penahana yang telah terdakwa jalani. Ketiga, menyatakan agar terdakwa tetap ditahan,” ungkap Efrita.

BACA JUGA: Beri Saksi Meringankan, Alumni PPDS Undip Ungkap Pasal Anestesi Sudah Ada Sejak 2004

Dalam persidangan, Efrita membeberkan pelanggaran terhadap Pasal 368 ayat (1) yang dr. Zara lakukan. Salah satunya yakni Zara terbukti melakukan kekerasan psikis melalui pesan WhatsApp.

Efrita menyebut, pesan WhatsApp itu dapat mengancam masa depan akademik mahasiswa PPDS anestesi Undip angkatan 77.

“Terdakwa terbukti melakukan kekerasan psikis melalui pesan WhatsApp yang intimidatif, dengan ancaman yang sangat spesifik terhadap masa depan akademik mahasiswa angkatan 77,” ungkap Efrita.

dr. Zara Yupita Azra terbukti lakukan kekerasan fisik, psikis, hingga ekonomi

Lebih lanjut, Efrita juga mengungkap bahwa Zara terbukti melakukan kekerasan fisik dengan memberikan hukuman yang tidak profesional dan merendahkan martabat seorang dokter.

“Terdakwa terbukti melakukan kekerasan fisik melalui hukuman-hukuman yang tidak profesional. Yaitu berupa berdiri berjam-jam, evaluasi tiap malam, dan penggunaan kata-kata kasar yang merendahkan martabat,” tegas dia.

Tak hanya itu, lanjut Efrita, Zara juga benar-benar melakukan kekerasan ekonomi dengan memaksa angkatan 77 mengeluarkan biaya dengan jumlah fantastis.

“Terdakwa terbukti melakukan kekerasan ekonomi. Yakni dengan memaksa angkatan 77 mengeluarkan dana yang sangat besar dan tidak proporsional dengan kemampuan finansial mereka,” ujarnya.

BACA JUGA: Saksi Kasus PPDS Undip Zara Menangis di Sidang: Saya Ada Trauma, Capeknya Luar Biasa

JPU pun menganggap Zara terbukti memanfaatkan relasi kuasa yang membuat residen PPDS Undip angkatan 77 tak punya daya untuk menolak perintahnya.

“Terdakwa terbukti memanfaatkan relasi kuasa. Yang mana itu menciptakan kondisi di mana mahasiswa angkatan 77 tidak memiliki pilihan lain selain mematuhi tuntutannya,” sambung Efrita.

Adapun kekerasan dan ancaman kekerasan yang Zara lakukan JPU sebut sebagai penyebab kematian dr. Risma Aulia Lestari secara tidak langsung.

“Kekerasan dan ancaman kekerasan yang terdakwa dan para senior lainnya lakukan sudah menimbulkan dampak psikologis yang sangat serius. Maka, secara tidak langsung berujung pada kematian dr. Aulia Risma Lestari,” pungkas Efrita. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp