“Apakah case by case itu menjadi indikator penting? Saya kira udara, laut, tanah, dan lain sebagainya ada di dalam IKLH. Kita itu di 73,74, di bawah DIY. Jawa Timur 71,06. Ini adalah by data,” katanya.
22 Kecamatan di Jateng Belum Punya Sekolah, Harapan Lama Sekolah Masih Rendah
Di bidang pendidikan, Zulkifli mengakui masih terdapat sejumlah PR mendasar bagi Jawa Tengah. Salah satunya adalah rendahnya harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah di Jawa Tengah daripada provinsi tetangga.
“Apakah tidak ada PR di Pak Luthfi dan Gus Yasin? Ada, terutama di masalah pendidikan. Harapan lama sekolah itu kita di bawah provinsi tetangga, apalagi dengan DIY dan DKI Jakarta kita itu paling bawah lah,” ujar Zulkifli.
Ia juga menyebut rata-rata lama sekolah masih menjadi pekerjaan rumah. Jawa Tengah hanya berada di atas Jawa Barat dalam indikator tersebut. Persoalan mendasar lainnya, lanjut dia, adalah masih adanya 22 kecamatan di Jawa Tengah yang belum memiliki sekolah.
“Kita masih ada PR, 22 kecamatan yang tidak ada sekolah. Nah, ini masih menjadi PR kita memang,” tegasnya.
Sebagai bentuk intervensi, Pemprov Jawa Tengah pada 2025 mencatat sejumlah program, antara lain mengembalikan 1,1 ribu anak putus sekolah kembali sekolah, menjalankan 5 ribu sekolah kemitraan, memberikan 15 ribu beasiswa siswa miskin, hingga membangun 10 unit sekolah baru.
Selain pendidikan, tutur Zulkifli, usia harapan hidup (UHH) juga disebut masih menjadi PR di sektor kesehatan. Intervensi yang dilakukan antara lain pembangunan rumah sakit dan pemberian beasiswa dokter spesialis.
Zulkifli Minta Jangan Bandingkan dengan Jabar dan Jatim, Sebut Fiskal Jateng Lebih Kecil
Zulkifli turut menanggapi perbandingan kinerja Jawa Tengah dengan Jawa Barat dan Jawa Timur yang kerap muncul di ruang publik. Menurutnya, kapasitas fiskal menjadi faktor pembeda utama.





