Ia juga menyoroti praktik generative AI besar seperti ChatGPT, Grok, hingga Gemini yang umumnya memanfaatkan data publik melalui teknik web crawling. Risiko muncul ketika data yang diambil tidak diverifikasi secara ketat.
“AI itu seperti bayi. Kalau melatihnya dengan kata-kata kasar, sampai besar pun dia akan kasar. Tapi kalau latih dengan hal-hal yang baik, hasilnya juga baik. Konsepnya sama,” tutur Prof. Heru.
BACA JUGA: Guru Besar Udinus Ungkap Bahaya Deepfake AI: Sulit Bedakan, Berpotensi Lepas Kendali
Menurutnya, perkembangan AI melesat cepat sejak 2017, ketika algoritma deep learning dan transformer berhasil memetakan cara kerja otak manusia. Sejak saat itu, pintu inovasi AI terbuka lebar dan banyak perusahaan teknologi global mengadopsi.
Menghadapi era ini, Prof. Heru menekankan pentingnya kendali manusia atas AI, bukan sebaliknya.
“Tujuan kita adalah mengarahkan AI agar berjalan sesuai keinginan dan tujuan manusia yang jelas, bukan hanyut dalam penggunaan AI tanpa batas,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





