Jateng

Siapa Bertanggung Jawab atas Penyalahgunaan AI? Guru Besar Ilkom Udinus Singgung Peran Developer

×

Siapa Bertanggung Jawab atas Penyalahgunaan AI? Guru Besar Ilkom Udinus Singgung Peran Developer

Sebarkan artikel ini
Pengembang AI | Grok AI. (hp.com)
Ilustrasi Grok AI. (Foto: hp.com)

SEMARANG, beritajateng.tv – Maraknya penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), termasuk generative AI, memunculkan pertanyaan besar, siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab, pengguna, platform, atau pengembang?

Menanggapi hal ini, Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Prof. Ir. Heru Agus Santoso, Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja.

Prof. Heru mengibaratkan AI seperti mata pisau. Teknologi tersebut bisa membawa manfaat besar jika digunakan dengan benar, namun dapat menimbulkan dampak negatif jika disalahgunakan.

“Kalau untuk hal positif maka hasilnya positif, tapi kalau untuk tujuan negatif maka dampaknya juga negatif,” ujarnya.

BACA JUGA: Masif Deepfake hingga Manipulasi Digital, Guru Besar Udinus Desak Negara Susun Regulasi Penggunaan AI

Ia menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan algoritma AI tidak terlepas dari faktor ekonomi global. Penguasaan teknologi menjadi driving force dalam perebutan pengaruh ekonomi dunia, sehingga perusahaan teknologi berlomba-lomba menciptakan sistem AI paling canggih.

Namun, dalam konteks penyalahgunaan, Prof. Heru menilai tanggung jawab melekat pada seluruh ekosistem AI. Algoritma AI, kata dia, dibangun dari data publik yang dikumpulkan melalui internet, yang tidak semuanya terverifikasi kebenarannya.

“Ketika data publik yang salah ikut jadi bahan pelatihan AI, maka developer juga ikut bertanggung jawab. Seharusnya data yang dipakai itu terkurasi dan terverifikasi,” tegasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa menyalahkan teknologi semata bukanlah solusi. Generative AI, menurutnya, adalah teknologi yang tidak mungkin terlepas dari kehidupan manusia di masa depan.

“Butuh kehati-hatian, baik dari sisi pengguna maupun pengembang,” katanya.

Kata Prof. Heru sebagai Pengembang Model AI

Sebagai pengembang model AI, Prof. Heru mengaku memahami betul pentingnya kualitas data dalam proses pelatihan. Ia mencontohkan pengembangan model AI untuk prediksi kesehatan seperti kadar glukosa atau kolesterol darah.

“Kalau salah mengambil sampel, modelnya jadi tidak akurat dan bisa menyesatkan. Dalam kasus itu, yang bertanggung jawab tentu developernya,” jelasnya.