SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 17 bhante yang menjalani perjalanan spiritual thudong bertajuk Walk for Peace Candi Sewu singgah di Vihara Avalokittesvara, Yayasan Sri Kukus Redjo, Gunung Kalong, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin 25 Mei 2026.
Kedatangan para bhante disambut ratusan umat Buddha dari berbagai daerah dengan prosesi basuh kaki sebagai bentuk penghormatan dan bakti kepada guru spiritual.
Salah satu bhikkhu thudong, Aggacyto Therra mengatakan, perjalanan spiritual tersebut tidak hanya membawa misi perdamaian, tetapi juga mengangkat nilai kearifan lokal.
Menurutnya, seluruh bhante yang mengikuti perjalanan spiritual kali ini berasal dari Indonesia.
BACA JUGA: Tiba di Semarang 28 Mei, Bhikku Thudong Singgah di Tiga Tempat
Selain itu, perjalanan spiritual momentum Vesakha Sananda juga ingin mengangkat keberadaan Candi Sewu yang ternilai memiliki nilai sejarah dan spiritual penting.
“Padahal Candi Sewu di Kabupaten Klaten juga memiliki makna spiritual dan lebih tua dari Candi Borobudur,” ungkapnya kepada awak media.
Aggacyto menambahkan, misi Walk for Peace juga lahir dari keprihatinan terhadap kondisi global yang ternilai sedang tidak baik-baik saja.
Melalui perjalanan spiritual tersebut, para bhante ingin menyerukan pentingnya perdamaian, toleransi, dan hidup rukun di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Siapa pun umat yang hidup di NKRI harus tetap hidup bersama dalam damai walaupun berbeda ras, suku, dan agama,” tegasnya.
Sementara itu, Pembimbing Masyarakat Buddha Provinsi Jawa Tengah, Karbono mengatakan, sekitar 300 umat Buddha ikut menyambut kedatangan para bhante di Vihara Avalokittesvara.
Selain prosesi basuh kaki, para bhante juga menggelar blessing atau pemberkahan bersama umat Buddha yang hadir.
BACA JUGA: Sempat Tak Dapat Restu Orang Tua, Begini Kisah Sila Guna Jadi ‘Biarawati Buddhis’ di Usia Belia
Karbono turut mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, hingga masyarakat yang turut menyukseskan perjalanan spiritual tersebut.
“Kehadiran lintas elemen dan sambutan masyarakat menjadi bukti semangat toleransi dan kebersamaan masyarakat Jawa Tengah,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





