SEMARANG, beritajateng.tv – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Ace Hasan Syadzily, buka suara terkait rencana pengembangan proyek geotermal Gunung Ungaran yang mendapat penolakan warga Jawa Tengah.
Ace menilai pemerintah perlu memberi penjelasan berkelanjutan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan energi panas bumi tersebut, termasuk manfaatnya terhadap ketahanan energi dan lingkungan.
“Pertama, perlu ada penjelasan kepada masyarakat bahwa justru dengan pemanfaatan geotermal ini akan semakin mengoptimalkan ketersediaan energi dan tidak akan berdampak terhadap lingkungan yang terlalu sangat luas,” kata Ace saat beritajateng.tv temui di Gedung Merah Putih Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa, 8 September 2026.
Mantan Anggota DPR RI itu meyakini pemanfaatan geotermal sebagai salah satu energi baru terbarukan justru dapat mendukung keberlanjutan lingkungan di daerah pengembangannya.
“Justru dengan pemanfaatan geotermal, saya kira akan lebih menjaga sustainabilitas lingkungan di daerah tersebut,” ujarnya.
Sebab itu, Ace menilai pendekatan kepada masyarakat menjadi hal penting dalam pengembangan energi baru terbarukan.
Pemerintah, kata dia, perlu terus menjelaskan manfaat proyek sekaligus membuka ruang agar masyarakat memahami tujuan pengembangan energi tersebut.
BACA JUGA: Jaga Kondusivitas, Bupati Semarang Minta PLN Hentikan Sementara Aktivitas Proyek Geotermal Gunung Ungaran
“Maka saya kira memang ini perlu ada pendekatan yang terus-menerus kepada masyarakat untuk bisa menjelaskan bahwa justru kita harapkan dari energi terbarukan juga bisa menghasilkan lapangan kerja buat masyarakat itu sendiri,” jelasnya.
Ace mengklaim, pengembangan energi baru terbarukan juga berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja.
Ia mengutip potensi penyerapan lebih dari 200 ribu tenaga kerja dari pengembangan energi baru terbarukan di Jawa Tengah yang ԁisampaikan sebelumnya oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
“Karena kita tahu, tadi ԁisampaikan oleh Bapak Gubernur ya, dengan energi baru terbarukan ini bisa lebih dari 200 ribu tenaga kerja yang terserap. Sehingga ini bisa mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan menyejahterakan masyarakat,” tandas Ace.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan rencana pengembangan geotermal Gunung Ungaran saat ini masih dalam proses.
Hal tersebut Luthfi sampaikan ketika menanggapi soal nilai investasi geotermal di kawasan Gunung Ungaran yang mendapat penolakan masyarakat.
“Belum, jadi masih berproses. Artinya meskipun dari Kementerian ESDM telah memberikan izin kepada PLN, masih banyak yang belum terpenuhi,” tutur Luthfi.
BACA JUGA: Soroti Proyek Geotermal Gunung Ungaran, Komunitas Budaya Khawatir Candi Gedongsongo Rusak
Luthfi menegaskan, masih ada sejumlah tahapan yang mesti ԁilakukan sebelum proyek tersebut berjalan, termasuk pemenuhan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan sosialisasi kepada masyarakat.
“Contoh, ada izin AMDAL-nya, ada sosialisasi kepada masyarakat, banyak yang harus kita lakukan. Tapi prinsip bahwa tidak ada pemerintah kita yang menyusahkan masyarakat,” ujarnya.
Pihaknya menekankan perlunya pendekatan persuasif dari pejabat publik dalam proses tersebut, terutama untuk menjelaskan rencana pengembangan kepada masyarakat.
Terkait masyarakat di kawasan Gunung Ungaran yang menolak rencana proyek geotermal, Luthfi mengatakan proses sosialisasi nantinya menjadi ranah pemerintah kabupaten/kota bersama PLN.
“Belum. Kabupaten/kota, ranahnya kabupaten/kota yang akan melakukan sosialisasi dengan PLN. Kita akan rekap,” jelasnya.
Meski demikian, Pemprov Jawa Tengah melalui Dinas ESDM ԁisebut telah turun untuk melakukan ԁiskusi terkait rencana tersebut.
“Sudah ԁilakukan dari dinas kita, ESDM yang akan turun ke sana dan sudah melakukan ԁiskusi dengan sana,” imbuh Luthfi.
BACA JUGA: Ramai Penolakan Proyek Geotermal Gunung Ungaran, Pemprov Siap Diskusi jika Warga Khawatir dan Keberatan
Lebih jauh, Luthfi mengatakan pengembangan energi terbarukan memang menjadi salah satu orientasi Pemprov Jawa Tengah dalam menjaga ketahanan energi.
Sejumlah upaya telah ԁilakukan, mulai dari pemanfaatan panel surya di Waduk Gajah Mungkur, pengembangan geotermal di Banjarnegara dan Wonosobo, hingga pengolahan sampah menjadi sumber energi.
Untuk pengelolaan sampah, kata Luthfi. Pemprov Jateng juga tengah mengembangkan fasilitas energi sampah di sejumlah wilayah, termasuk Semarang Raya dan Pekalongan Raya. Sementara untuk produksi sampah di bawah 1.000 ton, pemerintah menggunakan teknologi refuse-derived fuel (RDF).
“Artinya ke depan energi terbarukan merupakan orientasi daripada kegiatan, baik itu di OPD termasuk gedung kita sudah menggunakan energi listrik terkait dengan solar panel,” tutur Luthfi.
Ia menyebut saat ini hampir 417 pabrik di Jawa Tengah telah menggunakan energi terbarukan. Pemprov Jateng juga memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menggunakan energi terbarukan.
“Prinsip bahwa energi terbarukan adalah menjadi hal yang sangat positif,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





