Jateng

Soroti Hutan Gundul dan Kerusakan Jalan di Jateng, Pemprov Sambut Baik Dua Raperda Inisiatif DPRD

×

Soroti Hutan Gundul dan Kerusakan Jalan di Jateng, Pemprov Sambut Baik Dua Raperda Inisiatif DPRD

Sebarkan artikel ini
taj yasin
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen alias Gus Yasin usai menghadiri rapat paripurna di Gedung Berlian, Kota Semarang, Selasa, 26 Mei 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Gus Yasin menilai pengelolaan hutan di Jawa Tengah perlu menjadi perhatian lantaran sejumlah bencana yang terjadi belakangan berkaitan dengan perubahan fungsi lahan.

Ia menyebut alih fungsi lahan yang terjadi selama ini ikut memengaruhi kondisi lingkungan, terutama pada kawasan pegunungan.

“Kita tahu bahwa kemarin banyak kebencanaan yang bermula dari peralihan alih fungsi lahan dan lain sebagainya di kawasan hutan,” katanya.

Pemprov Jawa Tengah, kata dia, juga mencatat sejumlah kawasan yang membutuhkan perhatian lebih dalam pembahasan rehabilitasi lahan maupun perlindungan kawasan hutan.

Menurutnya, sejumlah wilayah menghadapi tantangan berbeda, mulai dari kerusakan kawasan hutan hingga perubahan fungsi lahan yang berpotensi memengaruhi kondisi lingkungan. Salah satu wilayah yang masuk perhatian yakni kawasan Gunung Slamet.

“Memang kemarin yang menjadi catatan ini ada di Gunung Slamet. Di Gunung Slamet ini ada sebagian yang kita ingin jadikan hutan itu, kita fasilitasi supaya tidak ada pengrusakan-pengrusakan,” ujar Gus Yasin.

Selain kawasan tersebut, Pemprov Jateng juga menyoroti kondisi sejumlah wilayah lain yang memiliki persoalan serupa.

“Lalu ada di gunung-gunung yang lain, termasuk di Kabupaten Pati itu juga banyak hutan yang gundul,” lanjutnya.

Gus Yasin Sebut Banyak Lahan Berubah Jadi Perkebunan dan Tanaman Musiman

Lebih jauh, Gus Yasin menjelaskan alih fungsi lahan yang terjadi saat ini tidak selalu mengubah kawasan menjadi area non-hijau.

Ia mengatakan, sebagian lahan memang tetap ditanami, namun jenis vegetasinya berubah sehingga kemampuan tanah menahan erosi ikut berkurang.

“Alih fungsi itu banyak ya, diubah menjadi perkebunan. Diubah yang dulunya pohon-pohon keras, sekarang sama sih sebenarnya ditanami, tetapi sifatnya kayak sayur-sayuran,” jelasnya.

Ia menilai tanaman musiman memiliki kemampuan yang berbeda dalam menjaga kondisi tanah.

“Nah, tanaman yang seperti ini kurang kuat akarnya untuk mengikat tanah,” tambah Gus Yasin.

Pemprov Ingin Pengawasan Hutan dan Jalan di Jateng Semakin Ketat