Sementara itu, kebutuhan biaya operasional harian yang meliputi benih, pupuk, air, dan transportasi perkiraan sebesar Rp180 ribu per hari. Dengan demikian, estimasi laba bersih yang dapat petani peroleh mencapai sekitar Rp420 ribu per hari.
Selain budidaya kangkung, Sumanto juga membagikan strategi bisnis peternakan skala rumahan yang sangat menjanjikan bagi para petani, yaitu budidaya ayam kampung dengan sistem pembibitan mandiri.
Ia memaparkan sebuah simulasi bisnis sederhana yang bisa petani lakukan dari rumah. Petani cukup memulai dengan satu ekor ayam jantan dan 10 betina. Sumanto menambahkan, dengan manajemen pakan dan kandang yang baik, 10 induk betina tersebut akan bertelur dan menetas secara berkala. Dalam beberapa bulan, jumlahnya akan berkembang biak secara eksponensial.
BACA JUGA: Bendungan Jlantah Diresmikan, Sumanto Berharap jadi Solusi Petani Karanganyar saat Kemarau Panjang
Sementara untuk pakannya, bisa memanfaatkan sisa makanan yang direbus kembali agar tak terkontaminasi bakteri. Sementara itu, pencegahan ayam dari penyakit juga relatif mudah. Yaitu dengan memberikan ramuan Kunyit, Temulawak, Jahe (Kuteja). Selain itu, menghindari kandang lembap, membuat ventilasi udara, karantina ayam baru minimal 7 hari, serta menjaga kebersihan kandang.
“Ini bisnis yang potensi keuntungannya berlipat-lipat. Satu ekor ayam bisa jadi 60 ekor. Bahkan Bill Gates pernah mengatakan, jika saya berada dalam kondisi miskin ekstrem, saya akan beternak ayam,” ujarnya.
Sumanto berharap, dengan mengombinasikan budidaya kangkung dan peternakan ayam kampung ini, para petani memiliki sumber pendapatan alternatif yang stabil.
“Jika tekun, hasilnya bisa menjadi tabungan yang sangat berharga. Begitu masuk masa panen besar atau saat mendekati hari raya, tabungan dari ayam dan kangkung ini bisa langsung petani manfaatkan. Yaitu untuk memenuhi berbagai kebutuhan Lebaran nanti tanpa harus bingung mencari pinjaman,” pungkasnya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





