SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Semarang menjadi bagian penting dalam perjalanan film Laut Bercerita, adaptasi novel karya Leila S. Chudori yang akan tayang serentak di bioskop mulai 29 Oktober 2026.
Tak hanya menjadi lokasi syuting, Semarang juga menjadi kota pertama yang disambangi dalam rangkaian roadshow film tersebut.
Roadshow perdana berlangsung di DP Mall Semarang pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Film ini mengangkat kisah kehilangan, persahabatan, keluarga, serta perjuangan mencari keadilan di tengah situasi politik era 1990-an.
Direktur Pal 8 Pictures, Budi Setyarso, mengungkapkan sebagian besar proses pengambilan gambar berlangsung di Semarang selama hampir satu bulan pada 2025.
Meski cerita mengambil latar Yogyakarta dan Jakarta, tim produksi memilih Semarang untuk menghidupkan suasana dalam film.
“Sebetulnya sebagian besar pengambilan gambar film itu ada di Semarang tahun lalu. Jadi, meskipun latarnya di Yogyakarta dan Jakarta, kami memilih Semarang sebagai tempat syuting yang cukup panjang,” kata Budi.
Menurut Budi, pemilihan Semarang bukan tanpa alasan. Kota ini memiliki kawasan dan bangunan yang mendukung penggambaran suasana masa lalu, sesuai dengan periode yang menjadi latar cerita.
BACA JUGA: Sinopsis Film Laut Bercerita Adaptasi Novel Populer Leila S. Chudori, Ceritanya Penuh Makna
Film Laut Bercerita berpusat pada sosok Biru Laut, seorang mahasiswa yang terlibat dalam kelompok diskusi bernama Winatra.
Setelah keterlibatannya dalam kelompok tersebut, nasib Biru Laut tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
Keluarganya pun harus menghadapi ketidakpastian dan terus mencari jawaban atas kehilangannya.
Kisah tersebut tidak hanya menyoroti penderitaan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.
Film ini juga mengajak penonton melihat arti solidaritas, keberanian anak muda dalam berpikir kritis, serta perjuangan mempertahankan nilai kemanusiaan.
Sutradara Yosep Anggi Noen mengatakan, cerita Laut Bercerita menyimpan pesan tentang harapan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Keteguhan sebuah keluarga menjadi salah satu gambaran penting dalam film tersebut.
“Ini juga film tentang harapan. Harapan tentang sebuah bangsa yang harusnya menjadi lebih baik melalui contoh resiliensi sebuah keluarga yang masih terus-menerus punya harapan dan mencari anak mereka,” ujar Anggi.
Ia menilai persoalan yang diangkat film ini masih relevan dengan kehidupan saat ini, terutama dalam pembahasan mengenai ketidakadilan, hak asasi manusia, dan dampak kehilangan terhadap keluarga.
Bangunan Tua Semarang Hidupkan Suasana 1990-an
Anggi menjelaskan, Semarang memiliki karakter visual yang sesuai untuk menggambarkan suasana era 1990-an. Sejumlah bangunan tua yang masih terpelihara membantu tim produksi membangun atmosfer cerita.
Beberapa lokasi di sekitar Universitas Dian Nuswantoro dan kawasan pertokoan Simpang Lima digunakan untuk menghadirkan suasana Yogyakarta pada masa tersebut.
Dengan memanfaatkan karakter bangunan dan lingkungan kota, tim produksi berupaya menghadirkan latar yang sesuai dengan kebutuhan cerita.
Dalam proses adaptasi novel ke layar lebar, Anggi mengakui tidak semua bagian cerita dapat masuk ke dalam film. Perbedaan medium membuat tim produksi perlu memilih bagian yang paling mendukung alur dan durasi film.
Meski demikian, ia memastikan sejumlah unsur utama tetap dipertahankan, mulai dari persahabatan, keberanian anak muda yang kritis, hingga keteguhan keluarga dalam menghadapi kehilangan.
Sebelum menyapa penonton di Indonesia, Laut Bercerita telah menggelar gala premiere di Busan, Korea Selatan, pada 11 Oktober 2026. Film ini juga mengikuti kompetisi utama Busan International Film Festival bersama satu film Indonesia lainnya.
Sementara itu, gala premiere untuk penonton Indonesia berlangsung di Jakarta pada 20 Oktober 2026.
Setelah rangkaian pemutaran awal tersebut, film ini bakal tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Oktober 2026.
Solidaritas Jadi Pelajaran bagi Para Pemain
Bagi para pemain, Laut Bercerita bukan sekadar proyek akting. Film ini juga memberikan ruang untuk memahami arti kebersamaan dan solidaritas di tengah situasi sulit.
Kevin Julio, pemeran Daniel, mengatakan pengalaman bermain dalam film tersebut memberinya pelajaran tentang pentingnya upaya bersama untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.
“Pelajaran yang saya dapat dari bermain film ini adalah tidak ada salahnya untuk menjadikan sesuatu lebih baik,” ujar Kevin.
Ben Nugroho, pemeran Alex, mengungkapkan tantangan terbesar justru muncul sebelum proses syuting dimulai. Para pemain harus membangun karakter dan memahami hubungan antartokoh agar persahabatan dalam cerita terasa meyakinkan.
Ketika produksi berlangsung, kedekatan yang terbangun di antara para pemain membantu mereka menghadirkan interaksi yang lebih alami.
“Jadi, secara akting juga kita seorang teman dekat, jadinya lebih organik saja,” kata Ben. (*)





