SEMARANG, beritajateng.tv – Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah ditutup dengan penyegelan gerbang gedung tersebut secara simbolis pada Jumat, 5 Juni 2026 petang.
Dalam aksinya, mahasiswa tidak hanya menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Mereka juga memberikan ultimatum berupa tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah untuk menunjukkan langkah nyata dalam memperbaiki kondisi ekonomi nasional.
Tuntutan tersebut disampaikan perwakilan mahasiswa dari Politeknik Negeri Semarang (Polines), Poltekkes Kemenkes Semarang dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, sebagai respons terhadap melemahnya kurs rupiah yang dinilai menjadi sinyal serius bagi perekonomian Indonesia.
Koordinator Wilayah BEM SI yang juga Ketua BEM UNS, M. Kailani Rizqy Pratama, mengatakan angka 18 hari terpilih sebagai simbol dari posisi nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp18 ribu per dolar AS.
“Setelah ini kami menuntut tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah Republik Indonesia untuk memperbaiki keadaan ekonomi,” ujar Kailani di sela aksi.
BACA JUGA: Berduka Rupiah Melemah, Mahasiswa Bakar Uang Mainan di Depan Gedung BI Jateng
Menurutnya, mahasiswa tidak menginginkan terulangnya krisis ekonomi yang pernah terjadi pada 1998. Karena itu, pemerintah diminta segera mengambil langkah antisipatif sebelum kondisi ekonomi semakin memburuk.
“Jangan sampai peristiwa 1998, jilid 2 itu terjadi lagi. Ingat, kita tidak berharap itu terjadi. Kami sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto, kita tidak berharap itu terjadi,” katanya.
Dalam orasinya, Kailani menekankan bahwa bangsa Indonesia seharusnya mampu belajar dari pengalaman masa lalu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Ia menilai pemerintah perlu menunjukkan respons cepat terhadap berbagai indikator ekonomi yang sedang menjadi perhatian publik, termasuk pelemahan rupiah dan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
“Kalau itu terjadi, kita juga malu sebagai bangsa Indonesia. Yang namanya orang cerdas tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Maka jangan sampai kita semua sebagai masyarakat Indonesia dan utamanya pemerintah melakukan kesalahan yang kedua kalinya,” tegasnya.
Pesan untuk Presiden, Menkeu, dan Gubernur BI
Sementara itu, Presiden BEM Politeknik Negeri Semarang (Polines), Kevin Kurnia Priambodo, menegaskan bahwa tuntutan 18 hari bukanlah ancaman. Melainkan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi bangsa.
Ia menyatakan aksi yang berlangsung, lahir dari keresahan mahasiswa yang melihat berbagai persoalan ekonomi yang saat ini masyarakat rasakan.
“Kami sampaikan dari bentuk keresahan, lahir dan berangkat dari bagaimana kami menyayangi bangsa ini. Kami sama sekali tidak mengharapkan adanya reformasi jilid 2 atau apa pun itu. Dan kami menginginkan kemajuan bangsa ini,” ujar Kevin.
Menurutnya, tenggat waktu tersebut ditujukan kepada tiga pihak yang dinilai memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan ekonomi nasional, yakni Presiden Prabowo Subianto, Menteri Keuangan, dan Gubernur Bank Indonesia.
“Ini kami tunjukkan sebagai bentuk kasih sayang kami dengan memberikan tenggat waktu kepada yang pertama Prabowo Subianto, yang kedua Menteri Keuangan Purbaya Yudhi, dan yang ketiga Gubernur Bank Indonesia,” katanya.
Menunggu Langkah Perbaikan Ekonomi
Kevin menjelaskan mahasiswa akan memantau perkembangan kondisi ekonomi selama 18 hari ke depan. Mereka berharap pemerintah dapat menunjukkan langkah konkret untuk memperbaiki situasi yang ada. Termasuk memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap perekonomian nasional.
“Dalam waktu 18 hari di masa kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar berada di angka 18 ribu. Kami menunggu supaya ada bentuk perbaikan ekonomi ini,” ujarnya.
BACA JUGA: Keren! Mahasiswa Undip Asal Ambarawa Sukses Cetak Domba Sakub Berbobot Ekstrem
Mahasiswa menegaskan aksi tersebut bukan bertujuan menciptakan instabilitas politik maupun sosial. Sebaliknya, mereka berharap kritik tersebut dapat menjadi pengingat bagi pemerintah agar lebih serius menangani persoalan ekonomi yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
Dalam akhir aksinya, mahasiswa secara simbolis menyegel gerbang Kantor Perwakilan BI Jateng dengan spanduk bertuliskan “RIP Rupiah Sekarat, 1998 Jilid 2”. (*)
Editor: Farah Nazila




