Gaya Hidup

Tak Lekang oleh Waktu, Memaknai Peran Kartini Masa Kini dan Inpirasinya Bagi Gen Z

×

Tak Lekang oleh Waktu, Memaknai Peran Kartini Masa Kini dan Inpirasinya Bagi Gen Z

Sebarkan artikel ini
Kartini Gen Z
Yustina Denik (kanan) saat mengisi talkshow Kartini di Pasar Senggol Hotel Grand Candi Semarang, Minggu, 28 April 2024. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Hari Kartini diperingati pada 21 April 2024 lalu. Banyak pihak yang kemudian menggelar berbagai acara seremonial merayakan hari kelahiran Raden Ajeng (RA) Kartini itu.

Yustina Denik, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia (STIEPARI) Semarang, menilai Kartini merupakan sosok yang karimatik dan tidak lekang oleh waktu. Tak hanya itu, ia juga memandang Kartini memiliki daya magnet tersendiri bagi para wanita Indonesia atas jasa-jasanya.

Sehingga, tak heran jika perayaan Hari Kartini banyak berlangsung selama bulan April penuh.

“Kartini memiliki suatu daya magnet, kita bisa terpengaruh atau termotivasi oleh jasa-jasa beliau,” katanya saat sesi talkshow Pasar Senggol di Hotel Grand Candi Semarang, Minggu, 28 April 2024.

Yustina menekankan, perjuangan Kartini tidak akan pernah lekang oleh waktu. Hal tersebut pula yang bisa Generasi Z contoh saat ini.

BACA JUGA: Rayakan Hari Kartini, Puluhan Perempuan Berkebaya Flashmob Tari di Pasar Senggol Hotel Grand Candi

Yustina menyebut, era Gen Z adalah era yang bisa dikatakan sangat konektif dengan era digital. Dan itu pula yang Kartini lakukan semasa hidupnya untuk berkomunikasi meski dengan cara-cara yang masih sederhana.

“Di tengah adat Jawa, Kartini selalu manfaatkan waktu untuk berkomunikasi dengan teman-temannya di Belanda dan mencurahkan ideologi-ideologinya,” tuturnya.

Selain itu, Kartini saat itu terpaksa menjadi istri ke-4 dari Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Padahal, Kartini menolak keras praktik pernikahan poligami.

Di sisi lain, meski bersedia menjadi istri ke-4, kata Yustina, tetapi Kartini masih mampu bertindak tegas. Yaitu, melarang suaminya untuk menikah lagi seusai menikahinya.

“Dia mau mengikuti saran dari orang tuanya tapi dengan syarat suaminya tidak menikah lagi. Artinya, dia punya keberanian dan ini salah satu cara mendobrak agar wanita tidak hanya sebagai konco wingking (teman belakang),” imbuhnya.

Benang merah perjuangan Kartini dan Gen Z saat ini

Jika menarik benang merah perjuangan Kartini dengan kondisi saat ini, Yustina berpendapat jika Gen Z bisa memetik hikmahnya tersendiri. Bahwasanya, seorang wanita harus punya cita-cita dan harapan yang harus ia raih di masa depan.

Selain itu, lanjut Yustina, salah satu peninggalan yang bisa Gen Z teruskan dari seorang Kartini adalah kebaya. Menurutnya, kebaya merupakan identias bangsa.

Banyak hal yang tercerminkan dengan berkebaya. Mulai dari keanggunan, rasa percaya diri, simbol kesopanan, hingga warisan leluhur itu sendiri.

“Kebaya identik dengan Kartini, memang saat itu adat keraton selalu mengenakan kebaya, jadi kita ini rasanya kaya putri keraton,” tambahnya.

BACA JUGA: Gandeng beritajateng.tv, Grand Candi Hotel Semarang Lestarikan Budaya Lewat Event Pasar Senggol

Sementara itu, Rena, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengaku, sebagai Gen Z, ia masih sering memakai kebaya.

Apalagi saat ini, muncul tren di sosial media yang memunculkan kesan berkebaya sebagai hal yang estetik. Ia pun mulai memakai kebaya di kehidupan sehari-hari.

“Saya mulai berani memakai kebaya di perpustakaan, di taman, di kehidupan sehari-hari. Jadi memang kreativitas Gen Z masih bisa berlanjut sesuai dengan nilai-nilai leluhur,” ungkapnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp