SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang mulai menghidupkan kembali kawasan Pecinan sebagai salah satu daya tarik wisata kota lewat Mooncake Festival 2026.
Untuk pertama kalinya, Pemkot Semarang menggelar Mooncake Festival bertajuk “Cahaya Harmoni Semarang: Merayakan Tradisi, Menyalakan Kebersamaan”. Festival berlangsung pada 23-26 September 2026.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan festival tersebut lahir dari gotong royong masyarakat Tionghoa bersama Pemerintah Kota Semarang.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak menggunakan APBD. Masyarakat dan berbagai pihak bergotong royong menghadirkan rangkaian kegiatan untuk meramaikan kawasan Pecinan.
“Keren ya. Ini adalah gotong royong dari sahabat-sahabat Tionghoa dan Wali Kota Semarang. Ini tanpa menggunakan APBD,” kata Agustina.
Menurut dia, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam penyelenggaraan festival perdana tersebut.
Meski berbagai pihak membawa konsep dan kontribusi masing-masing, Agustina melihat kondisi itu sebagai bagian dari antusiasme masyarakat.
“Ini keguyuban luar biasa. Mungkin agak messy karena semua orang ingin mempersembahkan sesuatu. Tapi keguyubannya ini luar biasa,” ujarnya.
BACA JUGA: Mooncake Festival 2026 Jadi Titik Temu Tradisi, Kuliner dan Teknologi di Pecinan Semarang
Agustina berharap Mooncake Festival dapat berkembang dan memiliki penyelenggaraan yang lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.
“Sukses Mooncake Festival tahun ini, mudah-mudahan tahun depan menjadi lebih bagus,” katanya.
Lebih dari sekadar festival, Agustina menyebut kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan kembali destinasi wisata yang pernah populer di Semarang.
Ia mengatakan kawasan Pecinan memiliki potensi untuk kembali menjadi magnet wisata jika di tata dengan tetap mempertahankan karakter dan kekhasannya.
“Ini adalah salah satu destinasi yang kita ciptakan kembali. Dulu pernah hits,” ujar Agustina.
Menurutnya, penataan kawasan dilakukan melalui berbagai proses, mulai dari pembenahan lingkungan hingga penambahan ornamen yang selaras dengan karakter kawasan.
Langkah tersebut harapannya mampu memperkuat daya tarik wisata Semarang. Pecinan kemudian di tempatkan sebagai bagian dari rangkaian destinasi yang terus Pemkot Semarang kembangkan.
“Untuk menarik atraksi turis, menambah kepopuleran Kota Lama, kemudian alun-alun, kemudian Kampung Melayu, dan ini Pecinan,” jelasnya.
Agustina mengatakan pengembangan destinasi juga akan diarahkan ke sejumlah kampung lain di wilayah Semarang Timur dan Semarang Tengah.
“Semangat pariwisata Kota Semarang,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Mooncake Festival 2026 sekaligus Ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, Tanto Hermawan, mengatakan festival tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperkuat kerukunan masyarakat.
“Kita mengharapkan Semarang lebih hebat. Ini festival pertama kali diadakan di Semarang dan kita mengharapkan bisa datangkan wisatawan yang banyak,” kata Tanto.
Ia juga berharap festival menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam.
“Warga sini rukun dan beragam, masyarakat bisa kumpul bersatu jadi satu di sini,” ujarnya.
Tanto mengatakan persiapan Mooncake Festival 2026 berlangsung dalam waktu relatif singkat. Ide penyelenggaraan mulai bergulir sekitar satu bulan sebelumnya, sedangkan persiapan teknis terlaksana sekitar dua pekan.
Meski waktu persiapan terbatas, ia menilai pelaksanaan festival berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Ke depan, panitia ingin menjadikan Mooncake Festival sebagai agenda rutin tahunan. Festival tersebut harapannya tidak berhenti sebagai kegiatan perdana, tetapi berkembang menjadi salah satu ikon baru Kota Semarang.
“Mengharapkan ini bisa jadi salah satu ikon, jadi salah satu rutin setiap tahun kita adakan,” kata Tanto. (*)





