BACA JUGA: Soal Wacana Polri di Bawah Kemendagri, Ini Kata PP Muhammadiyah
Dalam kultum tarawih perdana, Nurbini menekankan keistimewaan ibadah puasa. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa puasa menjadi ibadah yang khusus bagi Allah. Salah satu yang paling utama adalah kemurnian niat.
“Puasa itu adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Seseorang bisa saja makan di tempat yang tidak terlihat orang lain, tetapi tidak dilakukan karena keikhlasan kepada Allah. Oleh karena itu puasa menuntut kemurnian niat,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak pernah ditujukan kepada selain Allah, serta pahala puasa memiliki keistimewaan tersendiri yang tidak bisa diganggu gugat.
Antusiasme Jamaah dan Agenda Ramadan
Pada malam pertama tarawih, jamaah terlihat antusias memenuhi masjid. Nurbini berharap semangat tersebut terus terjaga hingga akhir Ramadan, terutama pada 10 hari terakhir yang rencananya akan ada kegiatan iktikaf.
“Kami berharap jamaah tetap semangat sampai akhir. Insyaallah nanti di 10 hari terakhir akan ada iktikaf mulai setelah tarawih sampai sahur dan subuh,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga stamina bagi para imam selama Ramadan dengan pola hidup sehat, istirahat cukup, serta menjaga asupan nutrisi.
BACA JUGA: Muhammadiyah Bantah Laporkan Pandji soal Mens Rea, Tegaskan Tak Beri Mandat
Pelaksanaan tarawih lebih awal oleh Muhammadiyah pun menjadi pengingat bahwa esensi Ramadan bukan hanya pada perbedaan penetapan tanggal, melainkan pada semangat meningkatkan kualitas ibadah dan keikhlasan umat dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Nadia Fadilla, jamaah yang juga mahasiswa rantau yang telah menetap sekitar dua tahun di Semarang berharap bahwa Ramadan kali ini dapat ia jalani dengan baik.
“Ya semoga Ramadan tahun ini bisa kumpul saa keluarga besar. Makin rajin ibadah, menjalankan puasa lancar,” ujar mahasiswa rantau asal Mojokerto itu. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





