Jateng

Temu Tani di Jatisawit, Ketua DPRD Jateng Sumanto Soroti Mandeknya Regenerasi Petani

×

Temu Tani di Jatisawit, Ketua DPRD Jateng Sumanto Soroti Mandeknya Regenerasi Petani

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Jateng Sumanto
Ketua DPRD Jateng Sumanto saat menggelar Temu Tani di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Humas DPRD Jateng)

KARANGANYAR, beritajateng.tv – Krisis regenerasi di sektor pertanian menjadi sorotan utama dalam acara Temu Tani yang digelar Ketua DPRD Jateng Sumanto di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. Dalam dialog bersama ratusan petani setempat, Sumanto, melontarkan kegelisahannya mengenai masa depan ketahanan pangan yang kian terancam. Salah satu penyebabnya adalah minimnya minat generasi muda untuk turun ke sawah.

Sumanto mengungkapkan fakta pahit bahwa saat ini profesi petani didominasi oleh generasi tua. Anak-anak muda atau gen z dan milenial enggan melirik sektor ini karena tak menjanjikan secara ekonomi.

“Pernah saya bertemu para petani, saya tanya siapa yang paling muda. Ternyata paling muda berusia 50 tahun. Sedangkan anak muda lebih memilih merantau atau kerja di pabrik karena penghasilannya lebih besar,” ujarnya.

BACA JUGA: Gandeng Paguyuban Dalang Karanganyar, Sumanto Ajak Generasi Muda Pahami Cerita Wayang Kulit

Sumanto menambahkan, realitas di lapangan menunjukkan penghasilan dari bertani masih minim. Bahkan seringkali berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Akibatnya, anak muda lebih memilih bekerja di sektor informal atau merantau ke kota daripada berlumpur di sawah.

Ketua DPRD Jateng Sumanto
Ketua DPRD Jateng Sumanto berdialog dengan para petani saat acara Temu Tani di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Humas DPRD Jateng)

Dampak dari minimnya pendapatan ini, lanjutnya, sudah masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan. Mandeknya regenerasi memicu fenomena baru yang mengancam stabilitas pangan daerah. Banyak anak muda yang memilih untuk menjual lahan sawah warisan orang tua mereka karena tidak menghasilkan keuntungan yang pasti.

“Kondisi ini menyebabkan alih fungsi lahan tidak terbendung dan membuat lahan pertanian produktif di desa semakin menyempit dari tahun ke tahun,” paparnya.

Bertani harus menguntungkan agar menarik minat anak muda