DEMAK, beritajateng.tv – Tumpah ruah masyarakat kabupaten Demak memadati Alon-alon untuk melihat prosesi Kirab Tradisi Tumpeng Songo, Rabu 28 Juni 2023.
Tradisi Tumpeng Songo merupakan salah satu rangkaian acara Grebeg Besar Demak yang terselenggara setiap malam sembilan atau malam Hari Raya Idul Adha.
Tumpeng berjumlah songo tersebut berisi makanan. Terdapat sembilan (songo) tumpeng serta dua gunungan yang berisikan hasil bumi di arak mulai dari halaman Pendopo kabupaten Demak. Menuju komplek Masjid Agung Demak yang berjarak 400 meter dengan mendapatkan pengawalan ketat dari berbagai unsur. Mulai dari TNI, Polri, Banser hingga Pramuka.
Rombongan jajaran Pemkab Demak dengan Bupati Demak sebagai pemimpin arak-arakan dan di susul para tokoh masyarakat.
Bupati Demak Eistianah mengatakan, Tumpeng Songo merupakan tradisi tahunan yang Pemkab Demak selenggarakan. Tumpeng dan gunungan di arak menuju Masjid Agung Demak untuk di doakan bersama-sama tokoh agama. Dan kemudian di bagi kepada masyarakat.
” Tradisi Tumpeng Songo kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tidak ada berebut gunungan atau tumpeng. Akan tetapi terdapat petugas yang membagi satu persatu kepada seluruh pengunjung yang ada di sekitar lokasi,” tutur Bupati.
Eistianah mengaku tidak ada tradisi rebutan atau berebut gunungan hasil bumi. Penyajian tumpeng songo tahun ini sengaja Pemkab buat sesuai aslinya dan bukan replika yang terbuat dari kertas ataupun plastik.
” Semuanya asli dan masyarakat bisa langsung memakannya. Tidak ada lagi yang palsu, mulai dari Manggar ( bunga kelapa), buah-buahan dan lain-lain,” tegasnya.
Tak Ada Rebutan di Tradisi Tumpeng Songo
Orang nomor satu di kota wali ini mengaku sudah mengantisipasi jika pada saat pembagian tumpeng songo mengalami kehabisan. Pihaknya menyiapkan ribuan nasi bungkus beserta minuman dalam kemasan kepada warga yang tidak kebagian.
” Bersama tim dan panitia kita sudah mengantisipasi hal itu. Agar tidak terjadi aksi berebut oleh warga yang tidak kebagian nasi tumpeng songo,” terang Bupati Demak.
Sementara itu menurut warga bintoro Demak, Muhamad Saifudin (35) mengatakan, ia sudah berada di depan komplek Masjid Agung Demak sejak sore hari. Hal ini sengaja ia lakukan agar memperoleh tempat yang dekat dengan pembagian nasi Tumpeng Songo.
” Hari ini saya libur dan saya niatkan untuk datang awal melihat proses tradisi Tumpeng Songo dari dekat. Dan supaya pas membagi nasi bisa paling depan,” ucap Muhamad Saifudin.
Pemuda lajang ini mengaku sangat menikmati prosesi arak-arakan nasi tumpeng songo. Dari pendopo hingga sampai Masjid Agung Demak. Banyak hal yang lain dari biasanya seperti tidak ada lagi rebutan gunungan. Peserta pembawa tumpeng dan gunungan merupakan anak-anak muda yang masih bersekolah.
” Kalau dulu ada rebutan gunung dan seluruh peserta merupakan orang – orang yang sudah berumur. Tapi tahun ini lebih meriah yang pastinya,” kata Saifudin.
Tak hanya warga lokal dari Demak, lanjut Bupati Demak, yang melihat atau menikmati prosesi tumpeng songo. Akan tetapi 12 orang wisatawan mancanegara yang berasal dari Francis datang ke kota Demak hanya untuk melihat tradisi ini.
” Ini merupakan tujuan kita agar tradisi turun temurun tidak hanya dinikmati warga lokalan saja. Yang jelas bisa menggaet minat turis asing untuk datang ke Demak. Salah satunya dengan tradisi Tumpeng Songo,” pungkas Eistianah.(*)
Editor: Elly Amaliyah





