Memasuki masa peralihan setelah musim baratan pun belum membawa perubahan berarti. Aktivitas melaut mulai bisa pelayan lakukan, tetapi hasilnya belum menjanjikan. Sementara itu, budidaya kerang hijau yang menjadi andalan warga Tambakrejo juga belum bisa dipanen.
“Sekarang ini masih masa tanam bambu. Panennya masih nunggu sekitar enam bulan lagi,” kata Haris.
Sementara Beralih Profesi Darat
Dalam situasi serba tidak pasti ini, nelayan seperti Haris dituntut untuk lebih fleksibel. Ketika laut tidak bisa diandalkan, daratan menjadi pilihan.
Ia mengaku, banyak nelayan di kampungnya yang beralih sementara menjadi pekerja serabutan. Mulai dari kuli panggul, buruh bangunan, hingga pengemudi ojek online.
“Kalau ada kerjaan di darat, ya kita kerjakan dulu. Yang penting bisa nutup kebutuhan di rumah,” ujarnya.
Namun tidak semua nelayan bisa dengan mudah beralih profesi. Faktor usia menjadi kendala tersendiri, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia dan tidak lagi memiliki banyak pilihan pekerjaan.
BACA JUGA: Dukung Swasembada Pangan dan MBG, Pemerintah Bakal Bangun 100 Kampung Nelayan di Jawa Tengah
Di tengah segala keterbatasan itu, satu hal yang tetap dijaga adalah ketahanan untuk bertahan. Laut mungkin sedang enggan memberi, tetapi kehidupan harus tetap berjalan.
Bagi nelayan Tambakrejo, musim paceklik bukan hal baru. Namun setiap kali datang, tantangannya selalu terasa berbeda dan semakin berat. (*)
Editor: Farah Nazila





