Jateng

Tiga Bulan Nihil Tangkapan, Kisah Nelayan Tambakrejo Bertahan di Tengah Paceklik Laut

×

Tiga Bulan Nihil Tangkapan, Kisah Nelayan Tambakrejo Bertahan di Tengah Paceklik Laut

Sebarkan artikel ini
Abdul Haris, nelayan kerang hijau, saat memanasi mesin perahu miliknya di dermaga Tambakrejo. Jumat, 24 April 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Abdul Haris, nelayan kerang hijau, saat memanasi mesin perahu miliknya di dermaga Tambakrejo. Jumat, 24 April 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sore itu, angin laut di Kampung Nelayan Tambakrejo, Kota Semarang terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan hanya karena musim baratan yang belum sepenuhnya berlalu, tetapi juga karena harapan yang ikut menipis di tengah laut yang kian sulit “dibaca”.

Bagi Abdul Haris (42), nelayan kerang hijau setempat, tiga bulan terakhir menjadi masa paling berat. Laut yang biasanya memberi penghidupan, justru berubah menjadi sumber ketidakpastian.

“Musim seperti ini memang paling susah. Habis musim baratan itu cari ikan atau udang sulit sekali,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di kediamannya pada Jumat, 24 April 2026 sore.

BACA JUGA: Laut Tak Lagi Ramah, Nelayan Semarang Lebih Banyak Angkut Sampah dan Beralih Kerja Darat

Haris menggambarkan, melaut di tengah kondisi seperti sekarang lebih banyak mengandung risiko dibanding hasil. Tidak jarang ia dan nelayan lain pulang dengan tangan kosong, meski biaya operasional tetap harus dikeluarkan.

“Kalau dapat ya syukur, tapi kalau enggak dapat ya rugi. Tekor. Repotnya nelayan itu di situ,” katanya.

Padahal, saat musim ramai, hasil tangkapan kerang hijau bisa mencapai 100 kilogram dalam sehari. Jumlah itu cukup untuk menutup biaya bahan bakar sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun kondisi tersebut kini hanya tinggal kenangan.

Biaya BBM Tak Sedikit

Untuk sekali melaut, Haris harus mengeluarkan biaya bahan bakar yang tidak sedikit. Perahunya menggunakan dua jenis BBM, yakni solar untuk mesin diesel dan bensin untuk kompresor pencari kerang.

“Kalau perjalanan jauh, solar bisa habis 3-4 liter. Bensin sekitar 1,5 liter. Paling tidak habis Rp20 ribu untuk bensin dan Rp30-Rp35 ribu untuk solar,” jelasnya.

Masalahnya, dalam tiga bulan terakhir, perhitungan itu tidak lagi seimbang. Hasil tangkapan nyaris nihil, membuat pengeluaran justru berujung kerugian.

“Hitung-hitungannya sudah enggak masuk. Rugi besar, tangkapannya nihil,” ungkapnya.

Memasuki masa peralihan setelah musim baratan pun belum membawa perubahan berarti. Aktivitas melaut mulai bisa pelayan lakukan, tetapi hasilnya belum menjanjikan. Sementara itu, budidaya kerang hijau yang menjadi andalan warga Tambakrejo juga belum bisa dipanen.

“Sekarang ini masih masa tanam bambu. Panennya masih nunggu sekitar enam bulan lagi,” kata Haris.

Sementara Beralih Profesi Darat

Dalam situasi serba tidak pasti ini, nelayan seperti Haris dituntut untuk lebih fleksibel. Ketika laut tidak bisa diandalkan, daratan menjadi pilihan.

Ia mengaku, banyak nelayan di kampungnya yang beralih sementara menjadi pekerja serabutan. Mulai dari kuli panggul, buruh bangunan, hingga pengemudi ojek online.

“Kalau ada kerjaan di darat, ya kita kerjakan dulu. Yang penting bisa nutup kebutuhan di rumah,” ujarnya.

Namun tidak semua nelayan bisa dengan mudah beralih profesi. Faktor usia menjadi kendala tersendiri, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia dan tidak lagi memiliki banyak pilihan pekerjaan.

BACA JUGA: Dukung Swasembada Pangan dan MBG, Pemerintah Bakal Bangun 100 Kampung Nelayan di Jawa Tengah

Di tengah segala keterbatasan itu, satu hal yang tetap dijaga adalah ketahanan untuk bertahan. Laut mungkin sedang enggan memberi, tetapi kehidupan harus tetap berjalan.

Bagi nelayan Tambakrejo, musim paceklik bukan hal baru. Namun setiap kali datang, tantangannya selalu terasa berbeda dan semakin berat. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp