SEMARANG, beritajateng.tv – Cuaca ekstrem yang melanda perairan utara Jawa Tengah sejak Desember 2025 tidak hanya menghentikan aktivitas melaut nelayan, tetapi juga mengubah realitas di laut. Nelayan tradisional di Kota Semarang kini justru lebih sering membawa pulang sampah plastik dan popok ketimbang ikan.
Kepala Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Slamet Ari Nugroho, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan nelayan saat cuaca buruk didominasi sampah laut, sementara biaya operasional terus meningkat.
“Nelayan melawan ombak, solar habis banyak, tapi yang didapat justru sampah. Plastik, popok, kayu. Ikan sangat minim,” katanya saat ditemui di kantornya pada Kamis, 29 Januari 2026.
BACA JUGA: Waspada! Cuaca Ekstrem Jateng Ancam Sejumlah Wilayah Hingga 22 Januari Mendatang
Menurut Slamet, nelayan tradisional di Semarang yang menggunakan kapal di bawah 5 gross ton (GT) rata-rata mengeluarkan biaya bahan bakar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu sekali melaut. Namun dalam kondisi cuaca ekstrem, hasil penjualan tangkapan tidak mampu menutup modal tersebut.
“Dalam kondisi normal, nelayan bisa mendapatkan Rp400 ribu sampai Rp500 ribu dari hasil tangkapan, bahkan pendapatan di atas Rp1 juta. Sekarang kadang hanya cukup untuk bensin, bahkan sering rugi,” ujarnya.
Akibatnya, pendapatan nelayan di Kota Semarang tercatat turun lebih dari 50 persen sejak cuaca ekstrem terjadi.
Terpaksa Beralih ke Pekerjaan Darat
Tekanan ekonomi membuat banyak nelayan akhirnya meninggalkan laut untuk sementara dan mencari penghasilan di darat. Nelayan usia produktif memilih menjadi buruh bangunan, tukang, hingga ojek online demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Nelayan yang masih di bawah 50 tahun banyak yang beralih ke pekerjaan darat. Ada yang jadi kuli bangunan, tukang, sampai ojol. Karena kalau dipaksakan melaut, risikonya tinggi dan hasilnya tidak sebanding,” jelas Slamet.
Sementara itu, nelayan lanjut usia yang tidak lagi produktif memilih bertahan di rumah dengan melakukan perawatan kapal dan alat tangkap.
Ratusan Nelayan Tambaklorok Terdampak
Data KNTI mencatat 973 nelayan di kawasan Tambaklorok, Semarang Utara, terdampak langsung akibat cuaca ekstrem. Mayoritas merupakan nelayan tradisional dengan kapal kecil dan pola melaut harian.
“Kalau kapal besar sama sekali tidak bisa melaut. Kapal kecil paling hanya di pinggiran, itu pun hasilnya minim,” tambahnya.
Pemerintah Kota Semarang, kata Slamet, telah menyalurkan sekitar 400 paket sembako kepada nelayan beberapa waktu lalu. Namun, bantuan tersebut ternilai belum mampu menutup kehilangan pendapatan nelayan yang berlangsung selama berbulan-bulan.
BACA JUGA: Cuaca Ekstrem Tekan Produksi Durian Brongkol Semarang, Petani Khawatir Panen Zonk
KNTI mendorong pemerintah untuk menghadirkan kebijakan perlindungan yang lebih konkret bagi nelayan tradisional, terutama saat cuaca ekstrem berkepanjangan.
“Cuaca ini perkiraannya masih berlangsung hingga Februari bahkan Maret. Kalau tidak ada skema perlindungan yang jelas, nelayan akan semakin terpuruk,” pungkas Slamet. (*)
Editor: Farah Nazila





