SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 300 kepala keluarga (KK) di Provinsi Jateng tercatat masuk dalam daftar tunggu atau waiting list program transmigrasi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, mengatakan tingginya minat masyarakat belum bisa langsung terakomodasi karena harus menunggu kuota dari pemerintah pusat.
“Animo atau data potensi orang yang berminat bertransmigrasi dari Jawa Tengah itu kurang lebih 300 kepala keluarga,” ujar Aziz.
Aziz menjelaskan, program transmigrasi merupakan kewenangan pemerintah pusat, sehingga penentuan jumlah keberangkatan bergantung pada pemberian kuota.
BACA JUGA: Tak Hanya Luar Negeri, Banyak Warga Jateng Cari Penghidupan Layak Lewat Transmigrasi
Ia menyebut kondisi daftar tunggu tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat proses transmigrasi tidak bisa secara instan dan melibatkan banyak tahapan.
Tahapan itu mulai dari pengusulan lahan oleh pemerintah daerah hingga kesiapan administrasi dan teknis yang harus kementerian terkait pastikan.
Menurutnya, mekanisme ini serupa dengan antrean haji, di mana masyarakat harus menunggu giliran untuk diberangkatkan.
Tahun 2025 Hanya 19 KK Jateng yang Berangkat Transmigrasi
Sebagai perbandingan, kata Aziz, pada tahun 2025 lalu hanya 19 KK dengan total 73 jiwa yang berhasil diberangkatkan dari Jawa Tengah. “Jumlahnya variatif, tahun lalu ada 19 KK yang berangkat,” ujar Aziz.
Adapun daerah tujuan transmigrasi pada tahun lalu meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, hingga Maluku Utara.
Sementara untuk tahun ini, mayoritas peminat masih memilih wilayah Sumatera dan Kalimantan sebagai tujuan utama. Aziz menyebut program transmigrasi masih diminati karena menawarkan berbagai fasilitas bagi peserta.
Selain mendapatkan rumah, transmigran juga memperoleh lahan pekarangan seluas 2.500 meter persegi serta lahan garapan hingga total sekitar 1 hektare.
Pada tahun pertama, peserta juga mendapatkan jatah hidup berupa kebutuhan pokok setiap bulan. Hal tersebut diharapkan dapat membantu peserta beradaptasi sekaligus mulai mengembangkan potensi ekonomi di daerah tujuan.
BACA JUGA: Soal Prabowo Bolehkan WNA Masuk BUMN, Menteri Transmigrasi: Pusing Cari Orang Pintar di Indonesia
Lebih jauh, Aziz menjelaskan transmigrasi tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga mendorong pemerataan pembangunan.
“Transmigrasi itu selain dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan juga membangun dari pinggiran dan juga memotivasi warga di lokasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran transmigran dapat menghidupkan lahan yang sebelumnya belum tergarap.
“Karena banyak yang ketika ada program transmigrasi itu tanah yang dalam tanda kutip terlantar, ketika warga pendatang itu mengolah dengan baik, maka warga setempat ikut bergairah,” terang Aziz.
Selain itu, program ini juga mendorong percampuran budaya antardaerah. “Budayanya Jawa berakulturasi bercampur dengan budaya yang ada di lokasi transmigrasi, sehingga lebih kuat lagi,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





