Jateng

Trauma Banjir, Warga Desak Normalisasi Sungai Plumbon dan Soroti EWS Tak Berfungsi

×

Trauma Banjir, Warga Desak Normalisasi Sungai Plumbon dan Soroti EWS Tak Berfungsi

Sebarkan artikel ini
Talud Sungai Plumbon Kembali Jebol, Warga Mangunharjo Was-was Tiap Musim Hujan
Warga dibantu petugas DPU dan BBWS melakukan penambalan talud yang jebol dengan sandbag di Sungai Plumbon Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

Ia menyebut, banjir pada Kamis (15/1) lalu merendam sedikitnya 43 rumah di wilayahnya. Selain penambalan tanggul, warga bersama petugas DPU Kota Semarang dan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana juga mulai menyiapkan pondasi untuk pembangunan talud baru.

“Kami berharap tanggul baru bisa segera dibangun supaya warga tidak terus was-was,” ujarnya.

Menurut Abdul Rochim, solusi jangka panjang yang paling warga butuhkan adalah pelebaran dan normalisasi Sungai Plumbon. Program tersebut sebenarnya sudah terencana, namun hingga kini belum berjalan maksimal.

“Kalau ingin aman, ya sungainya harus dinormalisasi. Informasinya pembebasan lahan baru sekitar 30 persen. Kalau itu selesai, banjir kemungkinan besar tidak terulang,” tuturnya.

EWS Tak Berfungsi

Selain kondisi tanggul, warga juga menyoroti tidak berfungsinya Early Warning System atau EWS yang sebelumnya terpasang di sekitar sungai. Salah seorang warga, Nuronia, mengaku trauma dengan banjir yang datang tiba-tiba tanpa peringatan.

“Airnya datang mendadak. Tiba-tiba terdengar suara seperti benturan, lalu tanggul jebol. Saya langsung panik, cuma sempat menggendong bayi, barang-barang tidak sempat di selamatkan,” katanya.

Nia, sapaan akrabnya menyebut, EWS yang dulu terpasang mampu memberi peringatan saat air sungai naik. Namun, sistem tersebut sudah sekitar dua tahun tidak berfungsi dan belum juga diperbaiki.

“Dulu kalau ada EWS, kami bisa bersiap. Sekarang tidak ada sama sekali. Sudah dua tahun rusak, tapi belum ada perbaikan,” keluhnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan darurat, tetapi juga segera merealisasikan pembangunan tanggul permanen serta normalisasi sungai yang sudah lama di sosialisasikan.

“Katanya mau di tinggikan, mau ada pembebasan lahan, tapi sampai sekarang belum jelas. Jujur saja, saya capek kebanjiran terus,” ujarnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp