Jateng

Trauma Banjir, Warga Desak Normalisasi Sungai Plumbon dan Soroti EWS Tak Berfungsi

×

Trauma Banjir, Warga Desak Normalisasi Sungai Plumbon dan Soroti EWS Tak Berfungsi

Sebarkan artikel ini
Talud Sungai Plumbon Kembali Jebol, Warga Mangunharjo Was-was Tiap Musim Hujan
Warga dibantu petugas DPU dan BBWS melakukan penambalan talud yang jebol dengan sandbag di Sungai Plumbon Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Upaya darurat mulai warga lakukan untuk menutup sejumlah tanggul Sungai Plumbon yang jebol di Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Meski perbaikan sementara sudah berjalan, warga di bantaran Sungai Plumbon masih merasakan cemas dan trauma banjir akibat luapan Sungai.

Warga meminta pemerintah segera memperbaiki sistem peringatan dini banjir yang tak lagi berfungsi.

Pemerintah kecamatan mencatat sedikitnya tiga titik tanggul jebol di Kelurahan Mangkang Kulon dan satu titik di Kelurahan Mangunharjo.

Tanggul-tanggul tersebut berada di RT 5 RW 4 Mangkang Kulon, RT 1 RW 3 Mangkang Kulon, serta RT 4 RW 4 Mangunharjo. Seluruh titik kini mulai warga tangani dengan penambalan menggunakan sand bag.

BACA JUGA: Sungai Plumbon Meluap, Jalan Pantura Sempat Lumpuh dan Rendam 3 Kelurahan

“Ada tiga titik tanggul jebol di Mangkang Kulon dan satu titik di Mangunharjo. Saat ini sudah mulai perbaikan sementara,” kata Camat Tugu, Eko Agus Padang Hariyanto, Selasa, 20 Januari 2026.

Eko menjelaskan, langkah penanganan darurat untuk menahan limpasan air sungai agar tidak kembali masuk ke permukiman warga.

Saat banjir terjadi beberapa hari lalu, ketinggian air di dua kelurahan tersebut bahkan mencapai sepinggang orang dewasa.

“Warga yang tinggal di sepanjang Sungai Plumbon tentu berharap normalisasi sungai bisa segera terlaksana. Kami sudah meminta dukungan Pemkot Semarang dan pemerintah pusat agar rencana ini segera di tindaklanjuti,” ujarnya.

Di lapangan, warga turut bergotong royong membantu perbaikan tanggul, salah satunya di RT 1 RW 3 Mangkang Kulon. Di lokasi ini, tanggul jebol dengan panjang sekitar tujuh meter dan sempat merusak tembok rumah warga yang berdiri tepat di samping aliran sungai.

“Kami tutup dulu pakai sand bag karena hujan masih sering turun. Setidaknya kalau ditambal, air sungai tidak langsung masuk ke rumah,” kata Abdul Rochim, Ketua RT setempat.