Marthino mengungkapkan, memerankan Dharma membuatnya mengeksplorasi kesepian dan ketakutan yang muncul akibat pengalaman tersebut.
“Semua orang kan punya traumanya masing-masing. Di sini, Dharma memiliki trauma ditinggalkan. Dan bagaimana Dharma menghadapi trauma itu ya tidak ada jalan lain kecuali dihadapi,” kata Marthino.
Ia juga menggambarkan perjalanan Dharma dalam menerima masa lalu dan menentukan sikap untuk menjalani kehidupan berikutnya.
“Oke, saya memang pernah ditinggal, itu sakit, tetapi itu di masa lalu dan sekarang saya sudah memilih untuk menjadi orang yang saya pilih,” lanjutnya.
Konflik tersebut menjadi salah satu pintu masuk bagi penonton untuk memahami bahwa trauma tidak selalu terlihat dari luar. Pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan perkataan, membaca situasi, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Mengandalkan suara misterius, bukan sekadar penampakan
Berbeda dari horor yang mengandalkan kemunculan makhluk menyeramkan, Hasut membangun atmosfer melalui suara-suara misterius yang semakin manipulatif.
Suara tersebut membuat keempat karakter meragukan apa yang mereka dengar sekaligus mempertanyakan siapa yang masih bisa dipercaya.
Hutan menjadi ruang yang mempersempit pilihan mereka. Setiap suara bisa terasa seperti petunjuk, ancaman, atau kebohongan. Ketegangan kemudian tumbuh seiring meningkatnya kecurigaan dan perubahan perilaku para karakter.
Pendekatan ini menempatkan pikiran manusia sebagai pusat teror. Penonton di ajak menebak apakah ancaman yang muncul benar-benar berasal dari luar atau justru di perbesar oleh ketakutan dan luka batin mereka sendiri.
Selain Marthino Lio, film Hasut di bintangi Karina Salim, Rachel Amanda, dan Kevin Ardilova. Putrama Tuta dan Siera Tamihardja bertindak sebagai produser, sedangkan Nick Musa menjadi ko-produser.
Melalui perpaduan misteri, trauma, dan konflik antarmanusia, Hasut menawarkan pengalaman horor yang tidak berhenti pada rasa takut. Film ini juga mengajukan pertanyaan tentang dampak perkataan, pentingnya empati, dan bagaimana kecurigaan dapat merusak kepercayaan. (*)





