“Ini masih menjadi PR kita. Perlu kita masifkan lagi akses-akses pendidikan terhadap disabilitas, baik itu di sekolah-sekolah luar biasa maupun sekolah inklusi. Guru-guru sudah kita latih bekerja sama dengan UNS dan BPSDM,” jelas Gus Yasin.
Ia menyebut, pemerintah provinsi juga menginstruksikan kabupaten/kota untuk menyiapkan guru di jenjang pendidikan di bawah SMA.
“Kabupaten/kota juga kita minta melatih guru-gurunya sehingga sekolah inklusi ini akan semakin masif dan bisa menampung lebih banyak saudara-saudara kita disabilitas,” tambahnya.
Tekankan Lingkungan dan Mitigasi Bencana, Gus Yasin Soroti Alih Fungsi Lahan
Lebih jauh, Gus Yasin menegaskan arah pembangunan Jawa Tengah juga akan selaras dengan program pemerintah pusat, termasuk Asta Cita Presiden. Ia menyebut, Jawa Tengah akan melengkapi kebijakan tersebut dengan gerakan konkret di lapangan.
“Untuk tahun 2027 kami menekankan bahwa kita mendukung penuh program pemerintah pusat, Asta Cita dari Bapak Presiden, termasuk ASRI, lingkungannya harus aman, harus bersih. Kita juga akan ada gerakan di Jawa Tengah, yaitu gerakan sumur resapan dan biopori. Kita masifkan lagi untuk penanganan kebencanaan,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah provinsi akan memperketat izin industri yang berkaitan dengan lingkungan, baik di wilayah hulu maupun hilir.
BACA JUGA: Dari Tegal hingga Magelang, Wisata Jateng Terimbas Banjir Bandang-Angin Ribut
“Kami juga memperketat izin-izin perusahaan industri yang ada kaitannya dengan lingkungan, baik di hulunya di gunung maupun di hilirnya di pantai. Itu akan kita kaji lingkungannya bagaimana,” jelasnya.
Saat menanggapi apakah kebijakan tersebut berkaitan dengan maraknya bencana longsor di kaki Gunung Slamet, Gus Yasin menegaskan persoalan alih fungsi lahan menjadi perhatian serius. Menurutnya, pengembalian fungsi lahan menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem Jawa Tengah.





