SALATIGA, beritajateng.tv – Indonesia bukan sekadar penjaga peninggalan purba. Tetapi juga menjadi salah satu poros utama dalam kisah perjalanan evolusi umat manusia.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengungkapkan, Pulau Jawa menyimpan lebih dari 50 persen fosil Homo erectus dunia.
Di Sulawesi ditemukan seni cadas tertua di dunia berupa lukisan pada dinding gua. Bukti ini menegaskan Nusantara bukan hanya penerima peradaban.
“Tetapi juga pencipta arah perkembangan manusia global,” katanya, saat membuka konferensi International Union of Prehistoric and Protohistoric Sciences (UISPP), di Balairung, UKSW, Satya Wacana, Salatiga, Senin 27 Oktober 2025.
Di Indonesia, lanjutnya, era baru penelitian prasejarah telah dimulai, ketika Indonesia memulangkan lebih dari 28.000 fosil Dubois dari Belanda.
BACA JUGA: Karya Inovasi Mahasiswa dan Dosen UKSW Warnai GIHN 2025 di Salatiga, Ini Penampakannya!
Bagi bangsa Indonesia, fosil-fosil tersebut bukan sekadar artefak yang kembali lagi, melainkan merupakan bagian dari potongan harga diri bangsa.
Maka konferensi UISPP ini menjafi istimewa, karena tidak hanya berkutat di ruang kuliah, tetapi juga di lapangan. Sehingga menghadirkan proses belajar yang nyata dan hidup.
“Tugas kita bukan sekadar melestarikan, tetapi juga menyeimbangkan pembangunan dan pelestarian demi masa depan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan,” tegasnya.
Dalam kesempatan ini, Duta Besar (Dubes) Perancis, Jules Irrman, menegaskan eratnya hubungan ilmiah Indonesia dan Prancis selama hampir setengah abad.
Kerja sama arkeologi antara kedua negara juga telah melahirkan generasi baru peneliti yang kini memimpin studi evolusi manusia di Asia Tenggara.
“Penyelenggaraan UISPP di UKSW ini menjadi simbol diplomasi budaya yang mempertemukan pengetahuan, keindahan dan nilai kemanusiaan,” tegas Irrman.
BACA JUGA: Dukung Pencegahan Stunting, UKSW Salatiga Kembangkan Urban Farming Singkong dan Talas
President of UISPP, Prof Jacek Kabaciński menambahkan bahwa UISPP adalah wadah kebebasan intelektual dan kolaborasi lintas bangsa.
“Dari Salatiga, kita belajar bahwa pengetahuan sejati lahir bukan dari perbedaan, tetapi dari keberanian untuk mendengarkan masa lalu,” jelasnya.
Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami, menyampaikan Kongres UISPP bukan hanya pertemuan ilmiah, tetapi perayaan pencarian makna manusia.
Menjadi tuan rumah kongres bergengsi ini sejalan dengan visi UKSW sebagai Scientiarum University, universitas pencari kebenaran.
Sekaligus Magistrorum et Scholarium University, persekutuan antara guru dan murid dalam melahirkan creative minority yang melayani dunia dengan kebijaksanaan.
“Di UKSW, sejarah bertemu kemanusiaan, dan pengetahuan bertemu tujuan,” jelasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





