SEMARANG, beritajateng.tv – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, membeberkan fakta mengenai video viral dirinya bersama aktor Hollywood Harrison Ford yang kembali ramai dibahas publik.
Dalam podcast YouTube Denny Sumargo, Zulhas menjelaskan bahwa seluruh pengambilan gambar dokumenter tersebut sudah tersetting sejak awal.
Zulhas menegaskan bahwa tim produksi menata ruangan secara total. Ia mengingat kembali momen saat ruangan di Kementerian Kehutanan dipenuhi empat kamera yang mengarah kepadanya dari berbagai sudut. Menurutnya, kru film menyiapkan skenario seolah dirinya menjadi pihak yang disudutkan.
“Saya baru sadar belakangan. Ini film, dan kalau ada pahlawan pasti ada penjahatnya. Saya penjahatnya,” kata Zulhas.
BACA JUGA: Dukung Prabowo 15 Tahun, Zulhas Minta Kader PAN di Jateng Sukseskan MBG dan Kopdes Merah Putih
Ia menyebut ruangan kecil berukuran sekitar empat kali empat meter itu sudah terpenuhi kamera tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Bahkan dari ruang tunggu, situasi sudah terasa janggal. Namun, Zulhas mengaku tak seorang pun berani menegur karena Harrison Ford merupakan bintang besar.
“Orang kita itu segan. Ada bintang terkenal, jadi semua sungkan untuk bicara,” ujarnya.
Zulhas: Ruangan Sudah Disetting
Zulhas menceritakan bahwa awalnya ia mengajak tim dokumenter melakukan debat terbuka di aula Kementerian Kehutanan. Ia mengundang puluhan wartawan agar prosesnya transparan. Namun, tawaran itu tidak pihak produksi terima.
“Kalau mau debat, silakan. Tapi mereka tidak mau. Mereka langsung masuk ke kantor saya, yang ternyata sudah di setting,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa banyak bagian percakapannya dipotong dalam hasil video yang beredar. Hal itu membuat konteks pembicaraan terlihat berbeda dari yang sebenarnya terjadi.
“Video itu diedit karena semua kameranya punya mereka. Saya tidak punya satu pun,” ujar Zulhas.
Lebih jauh, Zulhas menyinggung penggalan video yang menanyakan mengenai perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo (Tesonelo). Ia menolak anggapan bahwa pemerintah saat itu diam.
“Dia menganggap Indonesia seperti Amerika. Padahal kondisi kita berbeda,” jelas Zulhas.





