Karena jenis yang didapatkannya semakin bertambah, ia pun kian bersemangat mencari beragam spesies tanaman mint yang memang pernah didapatkan dan belum ada di kebunnya.
Seperti ke Cianjur, Bali dan sebagainya, bahkan hingga mendatangkan dari luar negeri, baik impor sendiri atau dibawakan benih tamu bule yang datang langsung ke kebunnya tersebut.
Namun, lanjut Erfix, semua butuh efort dan ketelatenan tersendiri. Karena bibit tanaman mint tersebut harus ditanam pada kondisi tanah dan iklim yang berbeda dengan asalnya.
Justru ia semakin tertantang agar tanaman-tanaman tersebut bisa tumbuh di kebunnya. Inilah yang kian memperbanyak koleksi tanaman mint, baik dari jenis maupun varietasnya.
Sehingga, dalam empat tahun terus berkembang dan sudah ada 52 jenis varietas mint. “Ini belum aneka tanaman edible flowers atau tanaman bunga- bungaan yang aman untuk konsumsi,” tambahnya.
BACA JUGA: Cegah Jajanan Berisiko, SMPN 39 Semarang Sinkronkan Kantin Sehat dan Program MBG
Selain beragam mint, hasil dari tanaman edible flowers di kebunnya juga telah memenuhi kebutuhan hotel-hotel besar di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Seperti Amanjiwo, Plantaran Heritage Borobudur Hotel, Villa Borobudur Resort, Hyatt Regency Yogyakarta, The Sunan Hotel Solo, Padma Hotel Semarang dan masih banyak lagi.
Karena tanaman edible flowers ini sangat dibutuhkan untuk teh, garnish atau hiasan pada makanan oleh para chef di hotel berbintang tersebut. “Belum lagi aneka herbal dari kebun saya yang memang lengkap,” tambahnya.
Baginya, materi bukan menjadi ukuran benefit dari ketekunan serta keuletannya dalam mengelola kebun Ibu Kota Herbalisme tersebut. Namun experience, knowledge dan juga relasi.
Karena membuatnya banyak berhubungan dengan para pakar, para peniliti dan sebagainya. Sehingga dari awalnya tidak tahu sekarang ia juga menjadi semakin tahu.





