News Update

Update Harga Minyak Mentah Mendidih Hari Ini, Harganya Melonjak Tajam

×

Update Harga Minyak Mentah Mendidih Hari Ini, Harganya Melonjak Tajam

Sebarkan artikel ini
Minyak Tanah
Ilustrasi minyak tanah. Freepik

SEMARANG, beritajateng.tv – Konflik yang terjadi di Timur Tengah antara Iran dan Amerika kini berdampak pada banyak hal salah satunya yakni harga minyak mentah.

Hal itu karena penutupan jalur Selatan Hormuz sehingga pasokan dari Timur Tengah menjadi terbatas untuk berbagai dunia.

Lonjakan harga yang cukup fantastis tersebut tercatat sebagai kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah.

Terlebih pekan lalu sebelumnya sudah mengalami lonjakan yang cukup signifikan sekitar 35%.

Berikut ini daftar harga minyak mentah terbaru dengan harga yang fantastis.

Update Harga Minyak Mentah Mendidih 

Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat melonjak sebesar 18,98% atau naik US$17,25 sehingga mencapai US$108,15 per barel.

Di sisi lain, minyak acuan global Brent juga mengalami kenaikan 16,19% atau bertambah US$15,01 hingga berada di level US$107,70 per barel.

Terakhir kali harga minyak melampaui US$100 per barel terjadi pada 2022, tepatnya setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina.

Lonjakan harga kali ini lantaran terpengaruh oleh kebijakan pengurangan produksi yang berlangsung di sejumlah produsen besar di kawasan Timur Tengah.

Sementara Selat Hormuz jalur penting distribusi energi global masih belum sepenuhnya terbuka.

Di sisi lain, Kuwait yang merupakan produsen minyak terbesar kelima di OPEC pada Sabtu lalu mengumumkan langkah pemangkasan produksi minyak serta output kilang sebagai tindakan antisipatif atas ancaman Iran terhadap keamanan kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Meski demikian, Kuwait Petroleum Corporation belum mengungkapkan secara rinci jumlah produksi yang dipangkas.

Di sisi lain, produksi minyak di Irak dilaporkan mengalami penurunan yang cukup drastis.

Tiga pejabat dari industri tersebut menyampaikan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan Irak merosot sekitar 70 persen, sehingga hanya tersisa sekitar 1,3 juta barel per hari (bph).

Padahal sebelum konflik dengan Iran terjadi, ketiga ladang minyak tersebut mampu menghasilkan sekitar 4,3 juta barel per hari.