Jateng

Viral Jawaban Nyeleneh Siswa Gen Z Saat Ujian, Kemendikdasmen Ungkap Penyebabnya

×

Viral Jawaban Nyeleneh Siswa Gen Z Saat Ujian, Kemendikdasmen Ungkap Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
staf ahli youth summit 2026
Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, Moch. Abduh saat menjadi keynote speaker di Youth Summit 2026: National Forum on Youth and Social Issues di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat, 21 Agustus 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Abduh mencontohkan ketika siswa diberikan soal, tetapi justru memberikan jawaban yang tidak sesuai atau terkesan menyerah. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menunjukkan rendahnya daya tangguh siswa ketika menghadapi tantangan.

“Misalkan bagaimana resilience, daya tangguh siswa yang mudah menyerah. Dikasih soal, jawabannya jawaban-jawaban [nyeleneh] yang tadi. Rasa keputusasaannya itu menjadi tinggi,” jelasnya.

Dia menilai pembelajaran yang tidak memberikan pengalaman bermakna dapat membuat siswa tidak terbiasa menghadapi persoalan. Akibatnya, soal yang sebenarnya mudah sekalipun dapat terasakan sebagai sesuatu yang sulit.

“Karena tadi anak tidak ada pemberian pembelajaran yang bermakna oleh gurunya. Sehingga soal-soal mudah pun akan terasakan menjadi soal yang sulit. Karena tidak terbiasa tadi,” katanya.

Dorong Pembelajaran Lebih Bermakna

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen mendorong perubahan pendekatan pembelajaran di sekolah. Abduh mengatakan selama ini guru kerap berfokus pada pencapaian target kurikulum maupun target asesmen.

Pendekatan tersebut ternilai perlu ada perubahan agar proses belajar tidak hanya mengejar penyelesaian materi atau nilai, tetapi juga memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa.

“Kita ubah pendekatannya dengan deep learning yang insyaallah akan membuat anak-anak itu belajar dengan penuh makna dan juga dengan sikap yang menggembirakan,” katanya.

Menurut Abduh, pembelajaran yang bermakna harapannya dapat membuat siswa lebih memahami materi sekaligus memiliki kemampuan menghadapi persoalan. Dengan demikian, kegiatan bersekolah tidak berhenti pada kehadiran siswa di kelas, tetapi benar-benar menghasilkan proses belajar.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Youth Summit 2026: National Forum on Youth and Social Issues yang mengangkat tema “Preparing Indonesia’s Future Generation: Mental Well-being, Quality Education, and Digital Readiness”.

Forum yang berlangsung di Semarang itu mempertemukan siswa, guru, akademisi, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan generasi muda, mulai dari kualitas pendidikan, kesehatan mental hingga kesiapan menghadapi perkembangan teknologi digital. (*)

Editor: Farah Nazila

 

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp