Pasar Johar bukanlah titik awal perjalanan Zippo. Sebelumnya, konsep serupa sudah ia jalankan yakni Kopi Tyang di Pasar Cakranegara Lombok dan Kopi Susu Santa di Pasar Santa Jakarta, dan masih bertahan hingga kini.
Ke depan, ia menargetkan ekspansi ke pasar lain seperti Pasar Salatiga dan Pasar Gede Solo, bahkan bermimpi bisa hadir di pasar-pasar seluruh Indonesia.
“Kalau bisa, ya di semua pasar. Pasar itu ruang hidup, bukan cuma tempat transaksi,” tegasnya.
Kehadiran Kofi Djohar cepat menyebar di media sosial, khususnya TikTok. Salah satu pengunjung, Renita, mengaku mengetahui Kofi Djohar dari konten viral.
“Awalnya lihat di TikTok, terus penasaran karena lokasinya di pasar. Baru pertama kali nemu konsep ngopi kayak gini di Semarang,” katanya.
Meski berada di dalam pasar, Renita menilai suasana Kofi Djohar tetap nyaman. “Walaupun di pasar, vibes-nya enak dan beda. Jadi pengalaman ngopinya juga beda,” tambahnya.
Lewat secangkir kopi pagi, Kofi Djohar membuktikan bahwa pasar tradisional masih punya daya tarik kuat. Bukan dengan mengubah jati dirinya, tetapi dengan menghadirkan pengalaman baru yang relevan dengan zaman. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





