SEMARANG, beritajateng.tv – Pasar tradisional yang kerap dianggap kuno dan mulai ditinggalkan, justru menemukan denyut barunya lewat secangkir kopi. Di Pasar Johar Semarang, Kofi Djohar hadir membawa budaya ngopi pagi sebagai cara unik menghidupkan kembali aktivitas pasar lewat pendekatan modern tanpa meninggalkan nuansa tradisional.
Kofi Djohar resmi meluncur pada 7 Januari 2026 dan baru beroperasi sekitar delapan hari, namun antusiasme pengunjung sudah terasa kuat.
Pemilik Kofi Djohar, Zippo, mengatakan ide menghadirkan kedai kopi di tengah kios pasar berangkat dari keprihatinan melihat pasar tradisional yang mulai masyarakat lupakan, terutama generasi muda.
“Sekarang pasar itu dianggap terlalu konservatif atau old school. Saya ingin membangkitkan pasar-pasar tradisional dengan gaya yang lebih relevan buat anak sekarang, tapi tetap menjaga autentiknya,” ujar Zippo saat beritajateng.tv jumpai di kiosnya pada Kamis, 15 Januari 2026.
Menurutnya, konsep Kofi Djohar bukan sekadar jualan kopi, melainkan menggabungkan budaya nongkrong anak muda dengan ruang sosial pasar. Ia memilih tempat kecil di antara kios dagang agar pengalaman ngopi terasa lebih intim dan otentik.
“Kalau tempatnya terlalu besar, justru hilang rasanya. Konsepnya memang stop, duduk sebentar, ngobrol 15 menit, lalu lanjut aktivitas,” jelasnya.
Berbeda dengan kedai kopi kebanyakan, Kofi Djohar sengaja buka sejak pukul 07.00-17.00 WIB dengan fokus utama ngopi pagi. Zippo ingin menjadikan pasar sebagai destinasi sarapan dan ngopi sebelum memulai hari.
Menu yang ditawarkan pun sederhana dan terkurasi, mengusung konsep Nanyang coffee yang lekat dengan budaya Peranakan Tionghoa.
Hanya ada empat menu utama yakni kopi Nanyang, milk tea, srikaya butter toast, dan telur setengah matang (half boiled egg). Soal harga, Kofi Djohar menyasar semua kalangan, mulai Rp7.000 hingga di bawah Rp20.000 untuk minuman.





