SALATIGA, beritajateng.tv – Sebuah rekaman video yang memperlihatkan seorang kepala sekolah di Kota Salatiga memprotes kualitas paket Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial. Dalam video tersebut, narasi yang beredar menyebutkan bahwa menu MBG di salah satu sekolah di Salatiga tidak layak konsumsi.
Setelah ditelusuri, sosok dalam video tersebut adalah Kepala SD Negeri Dukuh 05, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Jumarti.
Saat beritajateng.tv konfirmasi, ia membenarkan kejadian tersebut namun menekankan bahwa permasalahan itu sebenarnya sudah selesai dan telah dievaluasi oleh pihak penyedia.
BACA JUGA: Senator Jateng Kritik MBG Kering Ramadan: Namanya Makan Bergizi, Maka Lauknya Harus Bergizi
Jumarti menjelaskan bahwa video tersebut diambil pada Selasa, 24 Februari 2026 lalu. Protes dipicu oleh temuan buah jeruk yang sudah rusak dalam paket makanan siswa.
“Saya menemukan sekitar delapan dari sepuluh buah jeruk dalam kondisi tidak layak. Saya langsung protes ke pihak penyedia (SPPG). Video itu sebenarnya untuk dokumentasi internal sekolah sebagai pelengkap komplain, saya kaget kalau sekarang viral,” jelas Jumarti, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menegaskan, kritik tersebut merupakan bagian dari tugasnya melindungi peserta didik. Sebelumnya, ia mengaku pernah menyampaikan komplain serupa terkait temuan ulat, benda asing (sekrup), hingga rasa makanan yang terlalu asin.
Respons dan Evaluasi Penyedia MBG, Pihak SPPG Sawahan Salatiga Mengaku Lalai
Pihak Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) Sawahan, selaku penyedia, merespons cepat keluhan tersebut. Kepala SPPG Sawahan, Sarah Alfi Maiza, mengakui adanya kelalaian petugas saat proses pemorsian.
“Ada buah yang kondisinya gembur karena tertumpuk di dalam mika dan lolos sortir. Setelah kejadian itu, kami langsung melakukan evaluasi total. Sekarang penyortiran tiga tahap: saat peracikan, proses memasak, hingga tahap pemorsian,” terang Sarah.
Saat ini, SPPG Sawahan melayani 3.284 penerima manfaat di 20 sekolah, termasuk 158 siswa di SDN Dukuh 05. Sarah memastikan komunikasi dengan pihak sekolah kini jauh lebih proaktif untuk mencegah kejadian serupa terulang.





